TWOSHOT [Kyuhyun] – The Seeking Soul [Chapter 1]

Title: The Seeking Soul 

Genre: General, Fantasy, AU. 

Length: Two Shots 

Rated: T 

Main Casts : Cho Kyu Hyun,  Kim Ki Bum, Cho Ah Ra.

Author: Fufu Arija

Twitter: @fufuarija 

Disclaimer: All the casts and settings belong to God, the plot is actually mine. 

 

 

***

 

Bukan siang yang cerah. Awan mendung memayungi Paris hari ini. Namun lapisan uap air yang mengambang di udara tersebut tak kunjung menjatuhkan tetesan-tetesan air sejuknya ke daratan. Seorang namja*(laki-laki) berkebangsaan Korea Selatan duduk tenang di dekat dinding kaca sebuah gedung mewah. Iris hitam pekatnya terus memandangi awan kelabu di luar gedung yang seolah ingin menjadi pusat perhatiannya.

 

“Dalam 3 hitungan, hujan akan turun,” gumam namja itu pada dirinya sendiri.

 

“3.. 2.. 1…,” namja itu menghitung mundur dengan jeda teratur, dan…

 

BRUUUUUUSSSHHH

 

Hujan turun tepat setelah hitungannya rampung. Perkiraan yang sempurna.

 

Tidak, dia tak sekedar memperkirakan. Dia tahu. Sangat tahu. Dan tepat.

 

Dia adalah Cho Kyu Hyun. Delapan belas tahun, IQ 240, menguasai 10 bahasa, sedang menyelesaikan gelar Ph.D-nya di Paris. Kyu Hyun bukan hanya jenius, dia juga memiliki kemampuan yang tidak dimiliki sembarang orang. Kyu Hyun mampu membaca masa depan dan dapat berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata di sekeliling manusia. Indigo. Begitulah orang-orang menyebut anak dengan bakat bawaan lahir tersebut.

 

Para pejalan kaki terlihat kalang kabut mencari tempat berteduh terdekat. Sebagian besar dari mereka tak membawa payung karena tadi pagi cuaca tampak begitu cerah. Yah, mereka bukan Cho Kyu Hyun, atau anak nila lainnya yang dapat mengetahui bahwa cuaca siang ini akan mendadak berubah.

 

“Baiklah, acara akan kami mulai lima menit lagi. Dimohon para peserta mengisi tempat duduk paling depan terlebih dahulu,” ucap seorang MC menggunakan bahasa Perancis.

 

Kyu Hyun menoleh. Dia beranjak dari tempatnya semula dan menempati kursi di barisan depan yang masih kosong satu.

 

Setiap dua bulan sekali diadakan pertemuan antar anak indigo di gedung mewah tersebut. Semua pesertanya tentu saja manusia-manusia berkemampuan lebih itu. Kyu Hyun baru sekali ini bergabung dalam forum semacam ini dan dia langsung tertarik untuk mengikuti pertemuan selanjutnya.

 

Acara berjalan dengan lancar dan menarik. Para peserta forum saling berbagi cerita dan pengalaman masing-masing. Mereka juga mendengarkan wejangan-wejangan dari psikolog terkemuka di Paris. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan makan-makan sambil mengobrol agar lebih dekat dengan peserta lain.

 

Kyu Hyun melihat seorang laki-laki yang duduk menyendiri dan jauh dari kumpulan peserta. Laki-laki tersebut menarik perhatian Kyu Hyun karena wajahnya yang oriental.

 

‘Mungkin aku dapat berbicara dengannya,’ pikir Kyu Hyun.

 

Kyu Hyun mendekati laki-laki itu dan hendak menyapanya ketika pandangan mata mereka bertemu, namun laki-laki itu menatap Kyu Hyun tajam seolah mengintimidasi.

 

“Mau apa kau?!” ucap laki-laki itu membuat Kyu Hyun sedikit tersentak. Sungguh, dia pikir laki-laki itu orang yang dingin dan pendiam. Nyatanya, dia seorang yang garang.

 

Kyu Hyun tersenyum mendengar laki-laki itu berbicara bahasa Korea. Sepertinya dia tahu Kyu Hyun berasal dari negara yang sama dengannya.

 

Lantas Kyu Hyun duduk di sebelah laki-laki itu. “Tidak apa-apa. Kau berasal dari mana?” tanyanya sambil berusaha bersikap tenang. Kyu Hyun tahu itu pertanyaan bodoh. Sudah pasti dari Korea. Namun maksud Kyu Hyun adalah yang lebih spesifik, tepatnya berasal dari kota apa.

 

“Dari neraka!!!” jawab laki-laki itu ketus.

 

“Eh? Neraka?” Kyu Hyun mengira laki-laki itu sedang melawak karena pertanyaan bodohnya. Ternyata tidak.

 

Aneh sekali. Kyu Hyun tidak bisa membaca masa depan laki-laki di sebelahnya itu dan dia juga tidak merasakan candaan melalui sorot mata tajam laki-laki itu.

 

Kyu Hyun masih tetap tenang. Inilah kelebihan lain seorang Cho Kyu Hyun yang membedakannya dengan anak indigo lain. Kyu Hyun mampu mengontrol emosinya dengan sangat baik. Selain itu dia tidak pernah kehilangan konsentrasi untuk menyeimbangkan dunia ‘nyata’nya dengan dunia ‘lain’nya.

 

“Aku Cho Kyu Hyun. Siapa namamu?” ucap Kyu Hyun tanpa diminta memperkenalkan diri oleh laki-laki itu.

 

Laki-laki itu menoleh sekilas pada Kyu Hyun. “Kim Ki Bum,” jawabnya malas.

 

“Kau berasal dari kota apa? Kalau aku dari Seoul.”

 

“Aku membencimu. Pergi kau!” Ki Bum sedikit berteriak.

 

Wae? Mengapa kau membenciku?” tanya Kyu Hyun sabar. Dia sedang menghadapi orang yang menurutnya menarik.

 

“Karena kau adalah manusia!”

 

Dalam hati Kyu Hyun tertawa geli. Kau juga manusia, Kim Ki Bum, batinnya. Kedua kaki Ki Bum masih menapak. Dan seandainya Ki Bum bukan manusia pun Kyu Hyun pasti tahu.

 

“Pergi sana, manusia!” usir Ki Bum sekali lagi.

 

“Kau juga manusia, kan?”

 

Ki Bum diam tidak menjawab.

 

“Mengapa kau membenci manusia?” tanya Kyu Hyun hati-hati.

 

“Manusia itu kotor, jahat. Bumi sudah semakin tua, manusia di sini terlalu banyak…”

 

“…” Kyu Hyun bingung harus menanggapi apa.

 

“Aku ingin membunuh semua manusia. Dan kau targetku yang kesepuluh!” Ki Bum menuding Kyu Hyun dengan telunjuknya.

 

‘Sepertinya orang ini sungguhan gila,’ batin Kyu Hyun lagi.

 

Tiba-tiba Ki Bum menangis dan berkata, “kau tidak tahu bahwa bumi menangis, alam menangis, semua menangis karena manusia!” lalu Ki Bum berteriak histeris seperti orang kerasukan setan.

 

Kyu Hyun segera menenangkan Ki Bum sebelum orang-orang mendekati tempat mereka. Beruntung Ki Bum bukan orang yang sulit untuk diberi pengertian. Dia sudah kembali tenang.

 

Kyu Hyun sebenarnya sedikit takut dengan Ki Bum, namun bodohnya dia masih tetap setia mendengarkan Ki Bum berceloteh.

 

Ki Bum bilang bahwa dia melihat akan ada perang besar yang membuat alam dan bumi kacau balau. Dia juga bercerita tentang bencana-bencana masa lalu yang pernah terjadi. Sejarah yang ada di dalam buku pun tidak autentik. Sebagian besar dikarang oleh manusia, katanya. Kyu Hyun tak yakin dengan cara Ki Bum bercerita tersebut, namun tak dapat dipungkiri bahwa dia juga takjub mendengarnya. Jadi, siapa sebenarnya yang gila?

 

“Kau tidak bisa membunuh seluruh manusia,” ucap Kyu Hyun tiba-tiba.

 

“Mengapa?”

 

“Setidaknya kau harus mengerti bahasa mereka. Kau akan membunuh, misalnya kau ke Afrika, lalu kau berteriak-teriak, kau pikir mereka akan mengerti?”

 

Ki Bum tampak berpikir. “Kau benar. Aku akan belajar bahasa orang lain terlebih dahulu,” katanya kemudian tertawa.

 

Kyu Hyun menggeplak dahinya sendiri. Bukan itu yang dimaksudkannya.

 

“Bukan begitu maksudku! Maksudku kau jangan membunuh orang, dasar keledai bodoh!” baru sekarang Kyu Hyun merasa menyesal telah berbicara dengan laki-laki itu.

 

Ki Bum tertawa lagi, kali ini lebih lebar. “Kau lucu sekali.”

 

“Baik, Ki Bum-ssi, aku mulai takut padamu. Aku pergi. Au revoir*(selamat tinggal)…,” pamit Kyu Hyun lalu meninggalkan Ki Bum.

 

“Pergi sana, manusia kotor!”

 

Berbagai macam spekulasi muncul dalam benak Kyu Hyun. Mungkinkah Kim Ki Bum adalah seorang psycho?  Sayang sekali, padahal umurnya mungkin baru enam belas tahun, namun sudah berpikiran seperti itu.

 

Akhirnya acara tersebut selesai. Diam-diam Kyu Hyun mengikuti Ki Bum dari belakang. Kyu Hyun tidak tampak seperti orang yang sedang mengawasi, karena dia sendiri juga ingin menuju lantai dasar lalu pulang ke flat-nya.

 

Betapa terkejutnya Kyu Hyun melihat Ki Bum pulang dijemput oleh seorang nenek dan seorang sopir menggunakan… limousine! Kyu Hyun berdecak sejenak, pasti Ki Bum adalah orang yang sangat kaya. Namun itu tidak terlihat sama sekali mengingat penampilan Ki Bum yang bebas dan terkesan ‘berantakan’.

 

Yang membuat Kyu Hyun lebih heran, nenek yang bersama Ki Bum itu tidak terlihat seperti orang Korea. Apa benar itu adalah nenek Ki Bum? tanyanya dalam hati. Tentu saja dia tak mendapatkan jawabannya. Baiklah, untuk manusia satu ini, Kyu Hyun tidak dapat melihat siapa diri Ki Bum sebenarnya, keluarganya, bahkan menebak pikiran orang itu. Semua tentang Kim Ki Bum seolah blank dalam pikirannya. Ini membuat Kyu Hyun penasaran. Sebenarnya manusia sepeerti apa Kim Ki Bum itu?

 

***

 

Akhirnya Kyu Hyun sampai di flat-nya. Kyu Hyun mendudukkan diri di sofa kemudian langsung menyalakan televisi. Remaja berperawakan tinggi itu mencari channel  yang sedang menyiarkan berita. Kemudian tangan Kyu Hyun merogoh saku celana panjangnya dan mengeluarkan benda berwarna hitam yang begitu diagung-agungkannya. PSP.

 

Kyu Hyun pun mulai memainkan game di PSP kesayangannya tersebut. Jemarinya begitu lincah menari-nari di atas beberapa tombol kontrol. Walaupun kelihatannya Kyu Hyun sangat fokus dengan game yang sedang dimainkannya, namun sebenarnya Kyu Hyun juga sedang menyimak berita di televisi. Bukan hal yang sulit bagi seorang Cho Kyu Hyun untuk membagi konsentrasinya antara bermain game dengan menyimak berita.

 

Tiba-tiba terdengar bunyi bel dari luar. Kyu Hyun mem-pause game-nya kemudian berjalan membukakan pintu. Sudah menjadi kebiasaannya tidak melihat layar interkom terlebih dahulu.

 

Setelah membuka pintu, Kyu Hyun bingung karena tidak ada siapa pun di depan pintu flat-nya. Namun Kyu Hyun menemukan sebuah bingkisan.

 

Tanpa pikir panjang, Kyu Hyun pun membawa masuk bingkisan tersebut. Setelah membukanya, ternyata berisi sekotak pizza.

 

“Wah, kebetulan sekali aku sedang lapar,” ucap Kyu Hyun senang.

 

Di atas kotak pizza tersebut terdapat dua kertas kecil yang dilipat secara terpisah. Kyu Hyun tercengang saat mengetahui kiriman pizza itu dari Kim Ki Bum.

 

Kertas pertama yang dibaca Kyu Hyun bertuliskan, ‘Kau selanjutnya, Cho Kyu Hyun!’.

 

Sedangkan kertas yang kedua bertuliskan, ‘Terima kasih. Kapan-kapan kita bisa bertemu lagi, kan?’.

 

Dari mana Kim Ki Bum tahu alamatnya? Apa Ki Bum mengikutinya? Padahal jelas-jelas Kyu Hyun melihat Ki Bum sudah pulang terlebih dahulu bersama seorang nenek tadi. Kyu Hyun jadi bergidik.

 

Di balik ketakutannya, terselip rasa geli di hati Kyu hyun.

 

‘Sebenarnya Kim Ki Bum ini mengancamku atau ingin mengajakku ketemuan lagi?’  ujar Kyu Hyun dalam hati.

 

Sepertinya Kyu Hyun tak begitu mempermasalahkan bagaimana cara Kim Ki Bum menemukan alamatnya. Kyu Hyun juga tak curiga dengan pizza di hadapannya. Dia langsung memakan pizza itu, dan seratus persen tak terjadi apapun pada pencernaannya, kecuali rasa kenyang tentunya.

 

***

 

Suatu sore yang teduh. Kyu Hyun berjalan-jalan di sekitar menara Eiffel, memperhatikan beberapa imigran Senegal dan Pantai Gading yang menawari setiap turis untuk membeli gelang atau kalung asli Afrika. Tidak sedikit orang yang menolak penawaran mereka, meskipun cara mereka bisa dibilang ‘memaksa’.

 

Kehidupan di Paris begitu riuh-rendah tanpa jeda. Ribut, penuh, dan tak ramah. Semua orang tak saling mengenal dan terkesan tak ingin mengenal orang lain. Dan Cho Kyu Hyun tak pernah mengerti daya tarik apa yang menyebabkan orang-orang di dunia ingin pergi ke Paris dan sekedar menancapkan diri di muka menara Eiffel. Kalau bukan karena beasiswanya, tentu saja Kyu Hyun lebih memilih kota yang tenang untuk belajar.

 

Kyu Hyun terkejut melihat sosok Kim Ki Bum lagi, orang yang dianggapnya psycho itu. Meskipun Kyu Hyun penasaran dengan orang itu, namun dia berusaha untuk tidak menyapa Ki Bum. Ternyata Ki Bum juga melihat Kyu Hyun kemudian berjalan menghampirinya.

 

“Hei kau! Kau Cho Kyu Hyun, kan?” mulai Ki Bum.

 

“Ya, aku Cho Kyu Hyun. Oh, kau Kim Ki Bum,” balas Kyu Hyun sambil tersenyum sedikit.

 

“Kau mengingatku? Aku tak percaya ini!” seru Ki Bum.

 

“Maaf saja, aku mencoba melupakanmu, Ki Bum-ssi.” Kyu Hyun terkekeh pelan.

 

“Diam kau!!! Dengar ceritaku!” kata Ki Bum dengan irama seperti mengancam.

 

“Aku sibuk hari ini,” sahut Kyu Hyun tenang.

 

“Diam dan dengarkan aku!” seru Ki Bum, “aku tahu kau berbohong!”

 

Kyu Hyun tersentak mendengar ucapan Ki Bum. Ki Bum tahu bahwa dirinya—Cho Kyu Hyun—sedang berbohong. Saat ini dia tidak benar-benar sedang sibuk sedikit pun.

 

“Dengarkan! Kau mau mati atau menolongku?!” lanjut Ki Bum.

 

Ki Bum mengancam Kyu Hyun. Dia memberi Kyu Hyun dua buah opsi yang mutlak di pilihnya salah satu.

 

“Menolongmu?” tanya Kyu Hyun heran.

 

“Dalam proyekku memusnahkan manusia,” ucap Ki Bum dengan nada tinggi.

 

“Ki Bum-ssi, kau gila ya?” Kyu Hyun mulai mengkhawatirkan sesuatu.

 

“Sudah, ikuti saja aku.”

 

“Aku tidak mau!”

 

“Aku ingin mengajakmu ke gereja!” kata Ki Bum.

 

Kyu Hyun merasa aneh dengan orang bernama Kim Ki Bum ini. Adakah seorang sosiopat yang mengajak ke gereja? Untuk apa?

 

“Ya sudah, ikut saja denganku,” ucap Ki Bum lagi.

 

Kyu Hyun tak menggubris ajakan Ki Bum. Secepatnya dia berlari menjauhi Ki Bum.

 

Hanya karena Kyu Hyun anak jenius dan seorang indigo, bukan berarti dia sempurna. Kyu Hyun memiliki penyakit kolaps paru-paru yang sudah dideritanya sejak kecil. Dan itu berarti sebuah masalah untuknya saat ini. Ki Bum berhasil mengejar Kyu Hyun ketika Kyu Hyun sudah tidak kuat lagi untuk berlari.

 

Ki Bum berteriak pada Kyu Hyun menggunakan bahasa Korea, “manusia kotor! Persetan dengan manusia!” Tentu saja orang-orang di sekitar tidak mengerti.

 

“Kenapa kau mengejarku? Kau seorang gay?”  pertanyaan bodoh Kyu Hyun muncul lagi di sela-sela napasnya yang tinggal satu-satu.

 

“Karena kau sama sepertiku,” ujar Ki bum. “Hatimu gelap, Cho Kyu Hyun.”

 

“Gelap? Gelap bagaimana?” sekali lagi Kyu Hyun keheranan dengan ucapan manusia semi-normal di hadapannya itu.

 

“Kau itu sama denganku, kesepian, hampa, dan penuh kegelapan,” sahut Ki Bum menerawang.

 

“Kau mengoceh tentang apa sih!?”

 

“Ceritakan padaku, ceritakan!”

 

Kyu Hyun pun makin jengah dengan ucapan Ki Bum. “Apa? Aku tidak mengerti!”

 

“Kau juga membenci manusia, kan?” tanya Ki Bum sambil menyeringai.

 

“Iya benar, aku membencimu, manusia aneh!” jawab Kyu Hyun sarkastis.

 

Ki Bum tertawa keras. Demi seluruh arwah yang dapat dilihatnya, Kyu Hyun merutuk dirinya sendiri yang merasa takut dengan orang bernama Kim Ki Bum yang gila itu. Tahu seperti ini, sudah dari awal Kyu Hyun tidak akan menyapa Ki Bum. Kim Ki Bum yang ini sungguhan blank dalam pikirannya. Dia tidak melihat apapun tentang Ki Bum.

 

“Baiklah. Nanti aku akan datang lagi,” putus Ki Bum.

 

Kyu Hyun cepat-cepat menggunakan kesempatan lolosnya untuk berlari lagi. Ki Bum tidak mengejarnya, malahan melambaikan tangan seraya tersenyum padanya.

 

“Dasar bocah tak waras!” gumam Kyu Hyun.

 

***

 

Kyu Hyun terengah-engah ketika menutup pintu flat-nya. Dia menghela napas lega karena berhasil lari dari Kim Ki Bum.

 

“Kau kenapa, Kyu?” tanya seorang gadis yang sedang menyiapkan makan malam di meja makan. Dia memandangi Kyu Hyun yang bertingkah aneh.

 

Nuna*(kakak)

 

Kyu Hyun menyambar segelas air putih yang tersedia di meja makan dan meminumnya hingga tak bersisa.

 

“Kau ini kenapa?” Cho Ah Ra—nuna Kyu Hyun—kembali bertanya. “Kau buronan polisi, ya?”

 

“Yang benar saja!” sanggah Kyu Hyun. “Aku terlalu tampan dan berintelijensi tinggi untuk menjadi seorang buronan polisi!”

 

Ah Ra hanya terkikik mendengar jawaban Kyu Hyun.

 

Nuna…,” ucap Kyu Hyun setelah berhasil mengatur napasnya.

 

“Hmm,” gumam Ah Ra yang kembali sibuk menyajikan makan malam.

 

“Kenapa kau datang ke flat-ku?”

 

Ah Ra menatap Kyu Hyun sekilas dan tersenyum. Dia tak menjawab pertanyaan adiknya itu sama sekali.

 

Arraseo*(aku mengerti), kau mengetahui apa yang terjadi padaku, kan?” ucap Kyu Hyun mengerti.

 

Cho Ah Ra sama seperti Kyu Hyun. Dia seorang indigo yang memiliki intuisi tak kalah tajam dari Kyu Hyun. Ah Ra adalah ilmuwan wanita berusia dua puluh satu tahun, saat ini sedang bekerja di Pusat Penelitian Ilmiah Nasional di Paris. Kecerdasannya pun bersaing dengan Kyu Hyun. Ah Ra juga seorang polyglot di usianya yang masih terbilang muda. Dia mampu menguasai 8 bahasa dunia.

 

Sambil duduk, Kyu Hyun menceritakan pada Ah Ra mengenai Kim Ki Bum. Tentang Ki Bum yang benar-benar tak terbaca olehnya, tentang kiriman dari Ki Bum berupa pizza, tentang Ki Bum yang membenci manusia dan mengatakan bahwa dia sama dengan Ki Bum—semuanya. Kyu Hyun menceritakan semuanya tanpa satu pun detail yang terlewat.

 

Tiba-tiba suara bel berbunyi nyaring. Kyu Hyun bergegas membukakan pintu dan, seperti biasa, dia tidak melihat layar interkom terlebih dahulu.

 

Ketika membuka pintu, Kyu Hyun tidak menemukan siapa-siapa. Hanya sebuah bingkisan. Sama seperti tempo hari. Kyu Hyun pun membawa bingkisan itu ke dalam flat-nya dan menunjukkannya pada Ah Ra.

 

Pizza. Dan kertas. Lagi.

 

‘Kau tidak sendiri, Cho Kyu Hyun’. Begitulah kalimat yang tertulis di atas kertas tersebut. Di bagian sudut bawah kertas tertulis sebuah nama: Kim Ki Bum.

 

“Lihat kan, dia benar-benar aneh, nuna. Aku jadi ingin bertemu lagi dengannya.”

 

Ah Ra memperhatikan kertas itu dengan lekat. “Seaneh-anehnya dia, kau lebih aneh, asal kau tahu,” sahutnya. “Kau bilang bahwa kau takut padanya, tapi kau selalu ingin menelusurinya.”

 

“Benar juga ya, aku lebih aneh.” Kyu Hyun menertawakan dirinya sendiri. “Mau bagaimana lagi, nuna, aku sungguh penasaran dengan anak itu.”

 

“Hm, dia hanya ingin membuatmu penasaran lalu akhirnya kau yang ganti mengejarnya.”

 

“Menurutmu dia hanya iseng?” tanya Kyu Hyun dengan wajah skeptical.

 

Ah Ra tidak menjawab pertanyaan Kyu Hyun. “Makanlah dulu, ini sudah masuk waktu makan malam, kan?” katanya sembari menilik jam tangannya.

 

Kyu Hyun menurut saja. Dia tidak protes pertanyaannya diacuhkan oleh Ah Ra.

 

Seusai makan malam, Kyu Hyun mengerjakan tugas dadakan dari profesornya dengan cepat. Malam ini Ah Ra tidak pulang ke flat-nya, dia akan menginap di flat Kyu Hyun. Setelah semua tugasnya beres, seperti biasa, Kyu Hyun bermain game di laptopnya.

 

Tak terasa malam sudah sangat larut, namun Kyu Hyun masih setia memandangi layar laptopnya yang menyilaukan itu. Sesekali terdengar pekikan tak jelas dari mulut Kyu Hyun. Ah Ra sampai terbangun beberapa kali karena mendengarnya.

 

“Aaaarrghhh!!!”

 

Sekali lagi, Ah Ra mendengar jeritan Kyu Hyun di malam buta seperti ini. Oh tidak, ini bukan malam lagi, melainkan pagi. Jam menunjukkan pukul 2 pagi waktu Paris.

 

Ah Ra berkacak pinggang menghampiri Kyu Hyun yang duduk di atas lantai berkarpet.

 

“Bocah!” seru Ahra galak. “Jadi ini yang selalu kau lakukan tiap malam sampai pagi-pagi buta begini?” Ah Ra menunjuk laptop Kyu Hyun.

 

Kyu Hyun menatap Ah Ra dan tersenyum joker pada kakak satu-satunya itu. Lalu dia kembali berkutat dengan game-nya. Yah, memang dasar game mania.

 

“Tidur sekarang, Cho Kyu Hyun!” perintah Ah Ra.

 

Kyu Hyun tak mengindahkan kata-kata Ah Ra sehingga dia dihadiahi Ah Ra sebuah jitakan di pucuk kepalanya.

 

“Nuna, appoyo!*(kakak, sakit!) rengek Kyu Hyun sembari melindungi kepalanya, khawatir dijitak untuk kedua kali oleh Ah Ra.

 

Jeongmal?*(benarkah?) Kau ingin lagi?”

 

“Ah, andwae!*(tidak!)”  jerit Kyu Hyun. Dia kemudian menutup game-nya dan mematikan laptop—dengan terpaksa.

 

Ah Ra duduk di sofa. “Kau tahu apa yang terjadi kalau seseorang kurang tidur?” kali ini nada suaranya melembut. Kyu Hyun masih manyun dan terus memegangi kepalanya.

 

“Tahun 1959, seorang DJ dari Amerika bernama Peter Tripp, memecahkan rekor dengan tidak tidur selama 201 jam,” cerita Ah Ra. “Tapi, semakin lama dia tidak tidur, dia mengalami halusinasi penglihatan dan pendengaran. Indranya juga semakin tumpul. Tiba-tiba dia berlarian di jalan, menganggap makanan sebagai obat, bahkan sampai menunjukkan gejala kelainan jiwa.”

 

Kyu Hyun menyimak Ah Ra dengan seksama.

 

“Kalau kurang tidur, sistem imunitas akan melemah, dan kesehatan tubuh akan terganggu,” lanjut Ah Ra. “Jadi sebaiknya tidurlah secara teratur selama 7 sampai 8 jam per hari,” nasihatnya pada Kyu Hyun.

 

“Karena terus level-upgame-nya jadi tambah asyik saja, nuna,” ucap Kyu Hyun.

 

Arraseo, tapi kau juga harus tahu bahwa tubuhmu memerlukan istirahat,” sahut Ah Ra sambil mengelus surai hitam Kyu Hyun dengan lembut.

 

Segalak apapun Ah Ra pada Kyu Hyun, namun dia tetap orang yang paling memperhatikan Kyu Hyun selama di Paris. Dialah nuna yang menjadi seorang sahabat sekaligus ibu bagi Kyu Hyun. Kyu Hyun tahu Ah Ra sangat menyayanginya.

 

“Baiklah, aku mengerti,” kata Kyu Hyun kemudian beringsut naik ke sofa dan berbaring dengan menumpukan kepalanya di atas pangkuan Ah Ra.

 

“Tidurlah.” Ah Ra mengusap-usap rambut kepala Kyu Hyun hingga adiknya itu tertidur.

 

***

 

Sejak pertemuan kedua Kyu Hyun dengan Ki Bum, kiriman pizza atas nama Kim Ki Bum untuk Kyu Hyun semakin sering, bahkan hampir setiap hari. Dan beserta kiriman pizza tersebut selalu terselip kertas yang bertuliskan kalimat berbeda tiap kirimannya.

 

Surat bertulis ‘Bergabunglah dengan kami, Cho Kyu Hyun’, atau surat-surat aneh lain selalu mampir keflat-nya. Semua dari Kim Ki Bum. Sebenarnya Kyu Hyun tidak keberatan dikirimi pizza hampir tiap hari, malah dia cukup senang. Namun yang selalu membuatnya ganjil adalah isi dari surat-surat tersebut. Kyu Hyun pun semakin penasaran untuk menelusuri laki-laki bernama Kim Ki Bum itu.

 

Pernah suatu kali, Kyu Hyun dikirimi bangkai tikus tanpa kepala oleh Ki Bum. Keterlaluan, ini sudah paling ekstrem. Ki Bum menerornya. Kyu Hyun bahkan mengira ini tidak masuk akal. Hidupnya bagai di film-film. Namun ini nyata, benar-benar terjadi dalam kehidupannya.

 

Baiklah, Kyu Hyun memutuskan untuk tidak lagi berkeinginan menelusuri Ki Bum.  Bahkan dia sudah merencanakan untuk pindah flat.

 

Nuna, aku ingin pindah dari sini, carikan aku flat lain,” pinta Kyu Hyun ketika Ah Ra berkunjung ke flat-nya.

 

Ah Ra yang sedang membolak-balik majalah fashion hanya mengulas senyumnya. “Kau menyerah, Kyu?”

 

“Aku takut, nuna. Anak bernama Ki Bum itu semakin berulah.”

 

“Aku tahu.”

 

“Apa Kim Ki Bum itu seorang psikopat?”

 

“Bukan,” Ah Ra menjawab dengan yakin seakan dia benar-benar mengetahuinya.

 

“Dia juga anak indigo kah?”

 

“Bukan juga,” jawab Ah Ra lagi.

 

“Tapi aku pertama kali bertemu dengannya di forum khusus orang indigo,” sergah Kyu Hyun. “Dan kenapa dia blank dalam pikiranku?”

 

“Ki Bum bukan seorang psikopat maupun indigo, itu sebabnya dia blank.”

 

“Lalu apa kalau bukan psikopat?” heran Kyu Hyun. “Setelah semua teror yang dia tujukan padaku, apa itu belum jelas?”

 

“Ki Bum hanya salah satu dari sekian banyak anak yang mencoba mengikuti sindrom thriller, ” Ah Ra melanjutkan, “ini adalah suatu pengaruh yang signifikan untuk anak seusianya yang kurang mendapat perhatian dari orang tuanya. Kau bilang dia pernah dijemput oleh seorang nenek, mungkin itu neneknya atau bisa jadi pengasuhnya. Itu cukup membuktikan bahwa orang tuanya terlalu sibuk. Dan sebuah limousine? Ku rasa tidak sulit baginya untuk mendapatkan bacaan horor dan misteri, jadi dia memutuskan untuk menjadi seorang thriller,” jelasnya panjang lebar.

 

“Benarkah begitu? Apa ini bisa menjadi lebih serius, nuna? Aku harus bagaimana?”

 

“Tenanglah, semua akan baik-baik saja,” kata Ah Ra menenangkan Kyu Hyun.

 

Nuna, kenapa kau begitu yakin?”

 

“Sindrom thriller akan berhenti dengan sendirinya jika anak tersebut sudah bosan. Besok, jika Ki Bum menonton The Hobbit, maka bisa jadi dia akan mengikuti sindrom Hobbit,” jawab Ah Ra.

 

Kyu Hyun diam. Kali ini bukan karena otaknya sedang mencerna kalimat-kalimat nuna-nya, melainkan dia benar-benar tidak paham. Baru ini Kyu Hyun sulit memahami sesuatu.

 

Ah Ra mengerti mengapa Kyu Hyun terdiam. “Kesimpulan logikanya,” kata Ah Ra, “pertama, jika Ki Bum adalah seorang psikopat, maka dia akan menjauhimu. Karena seorang psikopat selalu menutupi dirinya. Biasanya jika seorang psikopat mendapatkan buruannya, dia akan mempelajari semua gerak-gerik si calon korban. Nah, sedangkan Ki Bum, dia hanya menerormu dengan pizza, bangkai tikus, atau yang lainnya itu. Itu namanya bukan psikopat kalau terlalu eksis dan mudah ditebak.”

 

Kyu Hyun manggut-manggut tanda dia mulai memahami maksud Ah Ra—sebenarnya, mencoba memahami.

 

“Kedua,” sambung Ah Ra, “jika Ki Bum adalah seorang indigo, itu tidak tercermin pada ciri-cirinya sama sekali. Kenapa? Karena setiap orang indigo memiliki skill  masing-masing, seperti bisa menerawang masa depan, menghipnotis, atau melihat makhluk halus. Untuk Ki Bum, dia hanya duduk diam dan mengekspresikan wajah yang spooky. Indigo bawaannya terlalu pendiam dan pemalu, bahkan bisa dikategorikan bukan indigo. Tapi percayalah padaku, dia hanya mengikuti sindrom thriller itu.”

 

Nuna, aku takut dengan Ki Bum. Tapi ku pikir dia hanya kesepian. Dan makin ke sini aku jadi makin penasaran dengannya. Apa aku sudah gila?”

 

“Tidak, kau tidak gila. Wajar kalau kau penasaran dengannya. Ku rasa kau hanya perlu sedikit hati-hati,” sahut Ah Ra.

 

Beruntungnya Cho Kyu Hyun memiliki kakak seperti Ah Ra. Selain cantik dan cerdas, dia juga sangat mengerti Kyu Hyun. Ditambah lagi Ah Ra memiliki bakat bawaan lahir yang sama dengan Kyu Hyun. Kalau tidak, mungkin sudah dari dulu nuna-nya itu mengecapnya sebagai ‘anak gila’.

 

***

 

Sabtu sore ini Kyu Hyun diminta Ah Ra untuk menemaninya membeli beef dan beberapa barang kebutuhan. Sejujurnya Kyu Hyun enggan mengiyakan permintaan nuna-nya, namun dia merasa bahwa dirinya akan bertemu dengan seseorang yang entah siapa itu. Karena Kyu Hyun penasaran dengan siapa ‘seseorang’ itu, akhirnya dia mau menemani Ah Ra berbelanja.

 

Mereka berbelanja dengan cekatan karena mereka bisa mencari barang yang hendak mereka beli dengan lebih cepat. Tentu saja hal tersebut mempermudah mereka. Ini seperti mereka berduet menggunakan ketajaman intuisi mereka.

 

Setelah berbelanja, Kyu Hyun dan Ah Ra berpisah di halte. Ah Ra naik bus menuju15th arrondissement Paris dekat Stasiun Kereta Bawah Tanah Convention, sedangkan Kyu Hyun akan pulang ke flat-nya di daerah Buttess-Chaumont.

 

Sebelum pulang, Kyu Hyun memutuskan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu. Ketika berjalan melewati deretan kafe dan pertokoan, Kyu Hyun melihat Ki Bum sedang duduk di kursi bagian luar salah satu kafe. Sepertinya Ki Bum-lah ‘seseorang’ itu.

 

Namun penampilan Ki Bum kali ini berbeda. Dia lebih rapi dan terlihat modis, tidak seperti sebelumnya yang berpakaian serba hitam dan kaosnya sedikit robek. Entah mengapa Kyu Hyun ingin menyapa Ki Bum. Dia pun mendekati tempat Ki Bum dan menyapanya.

 

“Hai, Ki Bum-ssi…”

 

“Kau siapa?” tanya Ki Bum dalam bahasa Perancis.

 

Kyu Hyun juga menjawabnya dengan bahasa Perancis, “aku Cho Kyu Hyun, kau lupa?” Kyu Hyun mengangkat alis keheranan. Namun sesungguhnya dia bahagia jika Ki Bum benar-benar melupakannya.

 

“Cho Kyu Hyun? Aku tidak tahu,” balas Ki Bum kemudian berlalu.

 

“Eh, kau sungguh lupa? Hei, Kim Ki Bum…”

 

Ki Bum berbalik kemudian berkata, “aku bukan Kim Ki Bum. Tapi aku Kim Hee Bum.”

 

 

To be continued…

 

 

 

Credit(s) : Ceritanya Cho Ah Ra yg tentang ‘apa yg bakal terjadi kalau seseorang kurang tidur’ itu aku contek dari buku Quiz! Science Common Sense – Bizarre Science yg ditulis oleh Do Ki Seong, tapi dengan bahasa yg aku rangkum.

 

 

Just FYI, aku bikin FF ini karena terinspirasi pengalaman pribadi seseorang. Tapi ini tetap fiksi, karena aku bikinnya dengan tambahan dari imajinasiku sendiri dan aku juga melebih-lebihkannya dari cerita asli. Jangan ngecap aku plagiarist, oke? Ceritanya murni dari aku, hanya saja aku terinspirasi sama pengalamannya orang, tapi nggak persis semua, setting dan alurnya juga beda bgt.

Minta komentarnya dong please.. Atau saran lebih baik 🙂 Kita sama2 belajar dari FF yg aku buat ini. Jangan lupa ya untuk nge review.. Danke! ^^ Oh, just call me Fufu, not ‘thor’, ok!

Thank a bunch to admin Yura sudah bantu publish FF aku ini 😉

 

 

Posted by Allison

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s