[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 5)

Tittle    : My wife, my enemy # Conflict 5

Genre  : Siapa saja yang mau baca

Cast     : _Yesung as Kim Jong Woon

_ Jang Mi Ran

_ Shin Na Mi

_ Cho Kyuhyun as His self

_ Other cast

The Most Real Inspiration by : Dini De’Forest (FB)

 

Terima kasih atas waktu luangnya ^^ please correction~~~

***********

Jang Mi Ran POV

Ujian Tengah Semester sudah berlalu. Libur selama dua pekan pun menantiku. Biasanya di saat libur begini aku menghabiskan waktu di toko komik selama mungkin, bahkan hingga toko tutup. Tapi sekarang aku malah harus terjebak bersama Jong Woon dirumah. Sejak menikah dengannya, ruang gerakku semakin menipis saja. Ada banyak hal yang tak bisa ku lakukan dengan benar, dan ini sangat menyebalkan.

“Tuan, Nona, hari ini saya ingin pulang ke Mokpo untuk menengok cucu saya,” ujar Nyonya Chang ditengah sarapan pagi kami. Nyonya Chang memang seorang janda yang memiliki seorang anak dan seorang cucu namja yang dulu pernah dibawanya ke rumah haraboji. Memang, sejak suaminya meninggal lima tahun silam, dia lebih memfokuskan dirinya dengan bekerja sebagai kepala pelayan di rumah kami, sebelum akhirnya harus menjadi mata-mata di rumah tangga aku dan Jong Woon akibat perintah haraboji yang konyol.

“Baiklah. Kau boleh berlama-lama disana, Nyonya Chang, karena aku dan Mi Ran pun harus melakukan kencan hari ini,”

Aku nyaris menyemburkan susu yang ku tenggak mendengar ucapan Jong Woon. Apa katanya? Kencan??

“Benar, kan, Mi Ran?” dia menatapku tegas dengan seulas senyum yang menyimpan banyak kebusukan di dalamnya. Aku mencibir. Rupanya dia sudah memulai aksinya untuk memperbudakku seenaknya.

“Ok.” Jawabku tandas dan penuh penekanan perlawanan. Jong Woon tersenyum sinis padaku, sebelum akhirnya dia melempar senyum manis pada Nyonya Chang.

Setelah sarapan dan berdandan seadanya, Jong Woon mengeluarkan mobil yang jarang digunakannya dalam garasi. Porche putih pucat mengkilat sempat menyilaukan mataku, membuat batinku bergumam sendiri kapan haraboji akan membelikan mobil seperti itu untukku. Rasanya pasti menyenangkan memiliki mobil sendiri, lalu menjelajahi dunia ini seorang diri. Hah, benar-benar mimpi.

Aku mendesah panjang.

“Kenapa melamun? Cepat masuk!” Jong Woon memerintahku tegas. Kalau bukan karena aku kalah taruhan dengannya, sudah ku tendang bokongnya dari tadi.

Jong Woon melesatkan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah. Aku tak tahu dia akan membawaku kemana, tapi aku tak berniat mencari tahu karena aku tak peduli. Aku ingin menjalani kekalahanku dengan cepat dan tanpa pertengkaran dengannya. Aku lelah, hanya itu yang ku rasakan. Sepanjang perjalanan aku membuang muka keluar jendela, dan sepanjang itu pula aku masih bisa menghitung beberapa tempat yang ku kenal, seperti toko komik misalnya, yang sudah terlewat tadi. Selang berapa lama kemudian, dia menepikan mobil di pinggir halte bus.

Dia menatapku sejenak. “Turun.” Katanya lugas. Tak perlu waktu lama untuk mencerna apa yang dia katakan, aku langsung membuka sealt belt dan turun dari mobilnya. Setelah itu ia kembali memacu mobilnya dengan kencang, meninggalkanku seorang diri di belakang. Dia keterlaluan! Ani, tapi aku harus terbiasa dengan hal ini. Aku tak boleh sakit hati, karena hal itu hanya akan membuatku tampak buruk di matanya.

Aku berjalan menyusuri padatnya kota Seoul di hari libur. Aku sudah tidak mood untuk pergi ke toko komik, tapi aku juga bingung dengan langkahku yang tanpa tujuan. Ku pikir hariku akan begitu membosankan, namun semua sirna tatkala tiba-tiba tubuhku mengejang. Aku terpaku di tempat, berdiri diantara khalayak ramai pejalan kaki dengan tampang bodoh. Oh God, or someone, tolong cubit aku! Aku tidak mungkin melihatnya. Melihat Cho Kyuhyun!! Baiklah, jantungku sangat tidak bisa diajak berkompromi hingga seenaknya saja berdebar tak karuan. Cho Kyuhyun berdiri dalam radius beberapa meter di depanku, dan dia… menatap ke arah… jalan?? Apa yang dilihatnya? Tiba-tiba dia langsung bergerak secepat kilat ke arah jalan raya. Aku terhentak kaget dan terkesiap. Lalu terjadilah suara benda keras berbenturan. Klakson menyala bersahutan-sahutan seiring dengan jeritan beberapa orang yang menyaksikan kejadian tabrakan itu. Jantungku nyaris berhenti berdetak saat tadi selintas ku lihat sosok Kyuhyun menghilang di balik konteiner putih pengangkat barang yang sudah keluar dari pembatas jalan. Kerumunan pun tercipta, dan aku panik dengan praduga menyakitkan yang melayang-layang di kepalaku.

Mataku melotot menyaksikan rol film di memori otakku yang tiba-tiba saja memutar dengan cepat kejadian itu. Kejadian saat eomma dan appaku tewas bertabrakan di jalan raya dengan mobil pribadi kami―dengan aku yang masih kecil―kala itu.

“Tidak, tidak― TIDAAAAKK!!” Batinku menjerit. Terengah, aku menghampiri kerumunan dengan muka banjir air mata. Aku membelah kerumunan, menerobos masuk ke dalam lingkaran, hingga akhirnya ku temukan dia, Cho Kyuhyun, terduduk dan tengah memeluk seorang gadis kecil yang menangis sambil menenangkannya.

“Kyu―?” hatiku mencelos lega. Merasa ku panggil namanya, Kyuhyun menoleh padaku. Secepat kilat ku usap air mataku dengan lengan baju.

“Jang Mi Ran?” dia memanggil namaku dengan ekpresi terkejut. Aku memaksakan senyum sambil melirik yeoja kecil dalam dekapannya. Mataku menyipit memastikan bahwa aku mengenal gadis itu. Dan benar saja, dadaku langsung membuncah tak percaya bahwa dia adalah…

“Yoon Sa??” #(Lihat eps.2)

Gadis itu menoleh, “Eonni??” matanya yang basah mengerjap-ngerjap padaku. Dua detik kemudian, bibirnya bergetar dan melebar. “Eonni!! Huwaaaaaa!!” dia meloncat ke arahku dan memelukku erat sambil menangis keras. Aku menangkapnya lalu memeluknya dengan tak kalah erat. Tanganku refleks mengelus-elus kepalanya yang di tutupi hoodie ungu dengan sayang. Rasa rindu dan cemas langsung menyatu begitu saja kepada gadis usia enam tahun dalam dekapanku ini.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kau pasti membuat Yoon Ki Oppa cemas lagi,” tegurku pelan. Yoon Sa, adik kecilku yang baru beberapa minggu lalu pulang dari Eropa bersama Yoon Ki Oppa, semakin mengeratkan tangannya di leherku. Dia benar-benar tak berubah setelah setahun pergi ke Eropa. Aku jadi bisa membayangkan bagaimana repotnya Yoon Ki Oppa merawatnya ketika di sana.

“Eonni, oppa jahat mengurungku di rumah sendirian. Aku bosan, jadi aku kabur,” katanya sambil mengerucutkan bibir.

“Tapi tadi kamu nyaris tertabrak, Yoon Sa,” tekanku. Lalu aku menatap Kyuhyun yang benaknya kentara sekali tengah bertanya-tanya apa hubunganku dengan gadis kecil yang diselamatkannya. “Untung ada chingu eonni,” lanjutku sambil tersenyum penuh rasa terima kasih pada Kyuhyun. Kyuhyun yang seolah sudah mengerti dengan kondisi ini pun, akhirnya menghampiri kami, seiring dengan membubarnya kerumunan.

“Sepertinya aku akan membiarkan kalian bereuni sebentar. Tunggulah di taman sesudah persimpangan jalan sana. Aku harus menyelesaikan masalah di sini dulu,” katanya sambil melirik supir kontainer yang sudah bertolak cengkak sedari tadi.

“Gomawo,” aku pamit lalu pergi sambil membawa Yoon Sa yang masih enggan turun dari gendonganku. Untungnya tubuhnya kurus dan agak pendek, jadi tak masalah aku menggendongnya selama apapun.

Di taman, aku dan Yoon Sa mulai bercakap-cakap. Dia dengan antusiasnya menceritakan pengalamannya selama setahun di Eropa, yang intinya dia sangat tidak suka berada di negeri sana. Sambil mendengarkan keluh kesahnya, aku terus menerus mengusap kepalanya lembut. Aku sangat menyayangi adik kecilku ini dan dialah sumber kebahagiaanku selama ini. Yoon Sa berusia enam tahun, dan seumur hidupnya dia menanggung beban penyakit keturunan yang memperlemah imun kekebalan tubuhnya hingga dia tidak boleh terlalu aktif dalam hal apapun karena itu hanya akan membuatnya tumbang. Aku lupa nama penyakitnya, namun yang ku tahu, penyakit itu terus menggerogoti Yoon Sa setiap waktu.

Gadis cantik tak berdosa ini sudah bersahabat dengan selang infus dan obat-obatan sepanjang hidupnya. Berbagai cara telah dilakukan seluruh keluargaku hanya demi membuatnya sembuh agar dia bisa bermain dengan normal layaknya anak-anak seusianya. Namun sepanjang ku ikuti perkembangannya, semua itu hanya memperlambat penyakit itu, bukan menyembuhkannya.

“Ah, oppa tampan!” teriak Yoon Sa ditengah obrolan kami. Sontak aku mengikuti arah pandangnya, dan ku lihat Kyuhyun tengah berjalan ke arah kami sambil membawa satu cup ice cream ukuran sedang.

“Kau suka ini?” tanya Kyuhyun pada Yoon Sa yang matanya sudah berbinar.

“Wah, ice cream!!” Yoon Sa langsung menyambar ice cream dari tangan Kyuhyun, lalu melahapnya.

“Gomawo,” ujarku malu. Dia sudah sangat banyak membantu Yoon Sa-ku hari ini.

“Sama-sama. Dia mengingatkan aku pada adik kecilku yang ada di Jepang,” katanya sambil mengelus-elus kepala Yoon Sa dengan lembut.

“Adikmu? Memangnya apa yang dilakukannya di Jepang?”

Kyuhyun hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku tanpa berniat menjawabnya. Mungkin itu adalah sesuatu yang tak harus diketahui orang lain seperti aku. Dan aku memaklumi hal itu. Kami lalu banyak berbincang dan tertawa karena kelakuan Yoon Sa yang sungguh menggemaskan.

Setidaknya hari ini tidak membosankan, bukan??

*********

“Terima kasih sudah menolong adikku. Aku sungguh tak tahu harus membalasnya dengan apa,” ujarku di pintu bus yang terbuka sambil membopong Yoon Sa yang tertidur lelap. Kyuhyun tersenyum dengan senyum yang selalu menghipnotisku.

“Tidak apa-apa. Aku senang adikmu tidak kenapa-napa. Tapi jika kau memang sangat ingin berterima kasih, kau bisa mentraktirku lain kali,” dia tersenyum lagi dan sejenak membuat jantungku berdetak tak karuan. Aku tersenyum tulus penuh arti ketika pintu bus mulai tertutup. Aku masih tidak beranjak dari pintu bahkan hingga bus mulai melaju. Aku masih bisa melihat bayangan sosok Kyuhyun di balik pintu bus yang transparan. Aku lalu tersenyum-senyum sendiri lalu mulai memilih kursi yang nyaman agar Yoon Sa tidak terganggu dari tidurnya.

Ketika tiba di depan rumah kakek, dadaku mulai berdesir hebat. Ku amati bangunan kokoh yang sudah sangat lama ku tinggalkan itu. Meskipun aku tidak menemukan kedamaian di dalamnya, tapi rumah ini adalah rumah kedua bagiku. Rumah tempat aku kembali dan bersandar seorang diri.

Aku menggendong Yoon Sa dengan erat lalu menekan bel rumah. Seorang pelayan yang ku kenal, yaitu Namma ahjumma, membukakan pintu.

“Nona?” katanya terkejut. Aku tersenyum. “Sore Namma ahjum―” suaraku tercekat begitu melihat sosok haraboji di belakang Namma ahjumma dengan wajah murka.

PLAK!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kananku dengan mulus. Aku tercengang lalu menatap haraboji tak percaya. Dengan gerakan kepala, haraboji memerintahkan Namma ahjumma untuk mengambil alih Yoon Sa dari gendonganku lalu membawanya ke lantai dua kamarnya.

“Dasar kurang ajar!” hardik haraboji, “berani sekali kau membawa Yoon Sa kabur dan berjalan-jalan dengan pria lain!! Apa kau tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan cucu menantuku jika melihatnya, hah??!!”

Aku menatap haraboji dengan wajah dingin. Sungguh, aku tak tahu harus berkata apa. Mungkin haraboji melihatku berjalan dengan Kyuhyun tadi, tapi bagaimanapun itu bukan alasan untuk menghakimiku seenaknya. Aku terluka, tentu saja. Hatiku seperti tersayat oleh benda tajam transparan dan bernanah karenanya. Tapi aku pantang menunjukan air mata pada haraboji. Tanganku sontak mengepal keras menahan sesuatu yang ingin sekali berontak di pelupuk mata ini.

“Kau itu sudah menikah! Bukannya berusaha dengan baik untuk memberikanku cicit, kau malah bersenang-senang dengan lelaki lain di luar sana. Kau membuatku malu, kau tahu?! Bagaimana bisa kau berbuat seenaknya tanpa memikirkan suamimu, Jong Woon, hah?!!”

Mataku terpejam. Gigiku menggeram pelan. Jong Woon, Jong Woon, dan Jong Woon lagi. Selalu perasaan Jong Woon yang haraboji cemaskan. Apa dia tidak pernah mengerti dengan perasaanku? Apa dia tidak tahu bagaimana sikap JongWoon padaku? Lantas, aku harus peduli dan memikirkan perasaannya?? Hah, omong kosong. Untuk apa aku mempedulikan perasaan orang yang  sama sekali tidak mempedulikan perasaanku??

“Kau mendengarkanku, Mi Ran?!” haraboji membentakku keras. Kemudian aku menatapnya pasrah. Aku mengangguk pelan sambil mulai menulikan telingaku untuk ceramah selanjutnya. Selama setengah jam lebih―tanpa mempersilahkanku duduk―haraboji menceramahiku habis-habisan. Semuanya tentang dia. Tentang cucu menantu kesayangannya, Kim Jong Woon. Selama membiarkannya memuntahkan amarahnya dengan puas, aku berhasil melayangkan pikiran. Aku mencoba mengingat-ingat masa kecilku yang indah sekaligus kelam disaat yang bersamaan. Aku memikirkan appa, eomma, dan segalanya tentang kami bertiga yang masih bisa ku putar dengan separuh ingatan. Sesekali aku membiarkan nama Jong Woon―yang selalu haraboji sebut dalam setiap serapahnya― memenuhi gendang telingaku dengan sangat menyakitkan. Lalu kenyataan yang membinasakan hatiku itu terekam jelas ketika ku lihat Yoon Ki oppa datang menenangkan haraboji yang masih berapi-api.

Yoon Ki oppa tampak melihatku dengan cemas. Aku memang tidak menunjukkan raut yang akan membuat orang lain merasa kasihan padaku, namun Yoon Ki oppa mempunyai cara tersendiri untuk menilaiku. Dia tahu segalanya tentang aku, dan itu cukup membuatnya bisa merasa iba padaku.

“Pulanglah!” perintah haraboji akhirnya, setelah Yoon Ki oppa berhasil merayunya. “Aku lelah harus terus menceramahi cucu tak berguna sepertimu.” Haraboji tampak berjalan bungkuk karena mungkin jantungnya kelelahan akibat terlalu banyak berteriak. Aku melihat punggungnya menghilang ke dalam kamarnya yang memang letaknya tak jauh dari pintu utama. Aku tersenyum miris. Cucu tak berguna katanya…

Benar. Itulah aku di mata haraboji. Cucu tak berguna.

“Jangan terlalu dimasuki hati. Kakek hanya sedang pusing akhir-akhir ini karena ulah Yoon Sa yang selalu membuatnya khawatir,” Yoon Ki oppa menghiburku. “Ayo oppa antar pulang. Hari sudah malam, Jong Woon pasti sudah menunggumu di rumah.”

Aku menatap Yoon Ki oppa dengan senyum getir. Baik oppa maupun haraboji, sama saja. Bagi mereka Jong Woon adalah sosok namja sempurna dan tanpa cela. Aku harus selalu mengingatnya. Bahwa Jong Woon adalah sosok namja tanpa cela di mata mereka.

“Aku akan pulang sendiri, Oppa.” Putusku akhirnya. “ temanilah haraboji. Dia harus diingatkan untuk selalu meminum obatnya dengan teratur,” kataku beralasan. Yoon Ki oppa mengelus kepalaku dengan senyuman iba. Dia mendekatkan wajahnya padaku dan mengecup bibirku sekilas.

“Oppa akan selalu ada untukmu, jadi tetaplah menjadi Mi Ran-ku. Jagalah dirimu dengan baik, karena apapun yang membuatmu terluka, oppa akan lebih terluka,”

Itulah Yoon Ki oppa. Malaikatku.

Aku tersenyum sebisaku sambil pamit pulang. Aku menolak untuk diantarkan walau hanya sampai halaman. Aku ingin sendiri. Aku hanya ingin meratapi rasa sakit yang selalu ku derita ini seorang diri. Aku ingin tetap menjadi Mi Ran yang mereka kenal. Ceria, nakal, dan pantang berurai air mata. Setidaknya di depan mereka. Sesederhana itu saja.

 

Kim Jong Woon POV

Aku bersiul sepanjang jalan pulang sambil memacu mobilku dengan kecepatan sedang. Ini hari yang sangat menyenangkan. Aku menghabiskan waktu bersama Na Mi di taman hiburan, tempat dimana kami sering bermain bersama waktu kecil. Meskipun wahana di sana cukup menyeramkan, aku selalu bisa mengatasi hal itu ketika melihat Na Mi bisa menikmati semua wahana dengan bahagia. Seperti biasa, dia selalu ditinggal Jungsu karena pekerjaannya, dan aku tak pernah bisa menolak untuk menjadi tempat pelariannya. Selama Na Mi merasa bahagia di sisiku, aku tak keberatan berbahagia dengan caraku sendiri. Dan caraku itu adalah dengan selalu berkedok kawan untuk berbagi.

Aku berhenti bersiul ketika melewati halte dimana tadi pagi aku menurunkan Mi Ran. Memang terkesan jahat, tapi hanya dengan cara itu aku bisa keluar rumah tanpa beralasan kepada Nyonya Chang. Tiba-tiba aku jadi memikirkan gadis itu. Apa yang dilakukannya seharian? Apakah dia sudah pulang?

Aku mempercepat laju mobil dan melesat menuju rumah. Setibanya, aku memasukkan mobil ke garasi, lalu masuk ke dalam rumah tanpa memencet bel. Nyonya Chang mengirimkan pesan singkat padaku bahwa dia harus menginap karena cucunya mendadak rewel ketika dia berkunjung. Jadi aku memberikannya waktu sebanyak mungkin agar dia bisa bersantai-santai bersama cucunya.

Keadaan rumah tampak gelap. Ku pikir Mi Ran belum pulang, namun begitu memasuki kamar, aku terkejut melihat siluet dirinya yang tampak indah karena sinar rembulan yang merembas dari sela jendela. Dia tengah terduduk di kursi menghadap ke langit luas dengan wajah dinginnya seperti biasa. Entah perasaanku saja atau karena memang cahaya rembulan itu menampakan wajah cantiknya yang tampak sayu. Dia tampak bergeming ketika aku datang, dan aku merutuki diri karena selalu merasa ingin tahu tentang apa yang tengah dipikirkannya sekarang.

kreeekk― aku terkejut mendengar suara kursinya bergeser. Dia menatap ke arahku. Aku tertegun di pintu menyaksikan bening kilau mata coklatnya itu.

“Kau sudah pulang?” dia bertanya padaku dengan nada datar namun terkesan sopan. Baiklah, dia membuatku merinding sekarang.

“Ya, aku baru sampai,” jawabku sambil membuka kancing sweaterku, berusaha mengalihkan perasaan bingung dan tak enak yang melandaku. Dia mendekat padaku dan tiba-tiba saja dia menggenggam tanganku, menurunkannya dari jajaran kancing sweaterku, dan mulai mengambil alih pekerjaanku. Aku menelan ludah melihat perlakuan lembutnya. Apa yang terjadi padanya? Aku membiarkannya membuka sweaterku. Aku ingin melihat apa yang diinginkannya dariku.

“Aku memikirkan ucapan haraboji,” katanya pelan sambil melepas kancing sweater putihku satu persatu. Dari jarak sedekat ini, aku bisa merasakan hembusan nafasnya menerpa wajahku, menggelitik jantungku yang entah sejak kapan sudah mulai terpacu.

“Yang mana?” tanyaku dengan nafas berat. Aku merasa kehilangan separuh oksigenku saat dia berdiri teramat dekat denganku.

“Tentang memberikannya seorang cicit,” aku terpaku mendengarnya. Aku pasti salah dengar atau telingaku mendadak tuli karena terlalu lelah seharian bermain dengan Na Mi di taman hiburan.

“Bagaimana menurutmu? Apa kau tidak ingin mencoba membuat seorang cicit untuk kakekku?” dia meloloskan sweaterku lalu melemparnya ke sudut kamar. Dia langsung menatap mataku lekat. “Atau… kau tidak ingin memiliki anak denganku?”

Aku menelan ludahku dengan susah payah. Jang Mi Ran pasti sudah gila. Ku pikir begitu, tapi entah kenapa aku tidak memberontak sama sekali ketika dia mulai melepaskan kancing kemeja garisku satu persatu, lalu melemparnya lagi ke sudut kamar, bertumpuk dengan sweaterku.

“Ayo kita buat cicit untuk kakekku.” Katanya tegas sambil memandangku tanpa ragu. Aku tak tahu mengapa ia selalu menyebut nama kakeknya, namun lebih dari itu, hasratku sudah mulai menggebu karena tak mampu menolak ajakannya. Ada perasaan bergolak di hatiku mendengar perkataannya, dan rasa ingin memilikinya pun muncul dengan kuat begitu saja.

Aku memandangnya seduktif begitu sadar aku sudah setengah telanjang dan hanya menyisakan jens panjang. Aku menariknya ke arah ranjang dengan perasaan tidak sabar, lalu mulai menindihnya. Mataku fokus pada bibirnya yang merah ranum dan tampak mengkilat karena cahaya rembulan yang memenuhi ruangan kamar. Dadaku berdesir hebat ketika mata kami bertemu dalam jarak yang begitu dekat. Aku sudah terlampau jauh dari kesadaranku hingga aku tak peduli dengan raut wajahnya yang berubah redup dan tubuhnya yang tiba-tiba saja bergetar dalam cengkramanku. Dan benar saja, ketika aku hendak menciumnya, wajahnya langsung berpaling ke kanan begitu saja. Menghindariku, ani, tapi menolakku.

“Aku tidak bisa,” katanya pelan. Dalam posisi di bawahku, dia menatapku sendu.

“Aku tidak bisa melakukannya denganmu, Jong Woon. Aku tidak mencintaimu.” Tandasnya yang sontak membuatku terpaku. Aku melihat raut keyakinan terpancar di wajahnya ketika mengucapkan hal itu. Rasa terluka tiba-tiba saja menyergapku. Kedua tangan yang menyanggah tubuhku, tiba-tiba mengepal keras. Aku menggeram dalam hati atas penolakan ini. Mataku memanas menahan emosi. Tidak, aku tidak bisa menerima ini.

“Bagaimana…” desisku menahan amarah sekuat tenaga. Setelah mengumpulkan keberanian tak terhingga, aku kembali menatapnya. “bagaimana jika aku membuatmu jatuh cinta padaku?” tantangku dengan suara rendah dan dingin.

“Itu tidak mungkin, Kim Jong Woon. Aku tidak akan pernah bisa mencintaimu selagi hatiku justru tengah mencintai orang lain,” suara datarnya menyentak hatiku dengan keras. Sakit sekali, hingga tidak mampu ku ungkapkan dengan kata-kata.

“Aku pasti bisa membuatmu mencintaiku,” tukasku masih dengan suara rendah.

“Coba saja,” katanya merendahkan. “Itu hanya akan melukai dirimu pada akhirnya.” Tandasnya lagi dengan keyakinan luar biasa. Matanya masih berani menatapku tak berkedip.

“Baiklah…” lunakku akhirnya. Jempol kananku terangkat untuk menyentuh permukaan bibirnya. Dan dia tampak terkejut.

“Aku akan memulainya dari sini,” tanpa ba-bi-bu lagi, ku lekatkan bibirku pada bibirnya. Dia melotot karena seranganku yang tiba-tiba. Hanya lima detik sebelum akhirnya aku merasakan tamparan keras mendarat di pipi kananku. Ku lihat wajahnya mengeras menahan marah.

“Kurang ajar! Berani-beraninya kau merenggut ciuman pertamaku!” bentaknya pelan namun sangat dingin. Aku mencibir sambil membuang muka menahan tawaku yang nyaris meledak jika saja aku tak ingat situasi panas ini.

“Ciuman pertama kau bilang?” kataku merendahkan. “kau pikir siapa yang memberimu nafas buatan ketika kau tenggelam, huh?” pelototku kasar. Dia tampak terkejut sekali dan terperangah seperti orang bodoh.

“A―apa! Ya Kim Jong Woon!!” dia membentak sambil menendangku hingga tersungkur ke lantai. Aku bangkit sambil mengusap sudut bibirku yang berdarah. Dia berhasil mengenai wajahku rupanya. aku tersenyum sinis dan tidak mempedulikan amarahnya yang sudah di ubun-ubun, menatapku dengan sadis.

“Bersiaplah, Jang Mi Ran. Aku akan membalas untuk setiap perkataanmu barusan.” Setelah mengatakan hal itu, aku berdiri mengambil kemeja dan sweaterku, lalu keluar dari kamar dengan sedikit menghentakan pintu.

Jang Mi Ran, aku tidak akan pernah bermain-main dengan ucapanku.

 

 

TuBerCulosis­­_ _ _

 

Tinggalkan jejak ya dengan berkritis ria ^^

Publised by Allison

Advertisements

5 thoughts on “[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s