[ Kyuhyun ] ONESHOT || Summer Memory

 

Tittle               : Summer Memory

Genre             :  Friendship

Lenght            : Oneshot

Rated              : G

Main Cast       : Cho Kyuhyun (Super Junior)

Author            Cherry Hee

Twitter            : @cherryelf_

Blog                 :  http://cherryelf.wordpress.com 

Disclaimer      : Seluruh cast bukan milik author

.

.

Senja sudah tampak di ujung timur. Cahaya merah kemuningnya menembus kaca-kaca tak bergorden di kelas kosong itu. Cho Kyuhyun sempat menatapi lantainya di sana. Bersih tak ada sampah sisa pembelajaran. Masih sama saat terakhir kali ia tinggalkan empat tahun lalu. Bahkan corak ubinnya pun tak berubah. Beberapa coretan dari tangan-tangan temannya yang usil di sudut dinding pun masih tampak. Semua masih sama. Kenangannya pun masih memupuk di sana.

Seperti sebuah film lama yang terputar, Kyuhyun kembali mengenang dirinya di masa lampau.

* * *

“Apa yang kau katakan pada wali kelas?!” sentak Kyuhyun cepat setelah memukulkan tangannya pada meja.

Anak lelaki itu mendongak. Terkejut tapi ia masih cukup tenang untuk membalas tatapan menusuk Kyuhyun.

“Aku hanya mengatakan kalau kau sering membolos kelas. Jika ada di kelas pun kerjamu hanya tidur dan main game.”

“Lee Hyukjae. Aku sarankan padamu untuk tidak mencampuri urusanku,” desis Kyuhyun, berharap anak lelaki itu menangkap nada benci di suaranya.

“Aku ketua kelas di sini. Bagaimana bisa kau bilang itu bukan urusanku? Semua yang ada di kelas ini adalah tanggung jawabku.”

Kyuhyun mendengus─berpaling dari wajah yang membuat tangannya serasa ingin terangkat untuk menonjoknya. Kyuhyun bisa saja melakukannya. Tapi tidak di sini. Tidak di depan berpuluh pasang mata yang tengah mengawasinya.

Kyuhyun menghela napas berat. Ia harus cepat-cepat pergi dari sini─atau emosinya tak akan dapat ia kendalikan lagi dan ia berakhir menghajar anak lelaki itu.

“Aku tak peduli. Jauhi aku dan jangan ikut campur urusanku.”

Kyuhyun melangkah pergi. Derap sepatunya mengetuk-ngetuk lantai kelas yang beberapa menit tadi hening. Teman-temannya menatapinya sampai bahu Kyuhyun menghilang di belokan sebelum serempak mendesah panjang dan menggeleng. Tak habis pikir ada anak yang senakal dan semenyebalkan Kyuhyun.

Sama seperti yang dirasakan Lee Donghae. Penghuni bangku di belakang Hyukjae itupun maju─menarik sebuah kursi kosong untuk ia duduki di depan meja Hyukjae. Tangannya menepuk-nepuk bahu temannya itu sebelum mengucapkan kata-kata yang sejak tadi ia tahan. “Aku tak percaya Tuhan menciptakan manusia seburuk itu. Dia benar-benar tak berpikir bahwa ujian akhir akan segera datang. Sikapnya sungguh tak berubah sampai sekarang. Aku sendiri tidak tahu apa yang bisa kulakukan jika aku menjadi dirimu Hyukie.”

Lee Hyukjae tersenyum kecil. Tangannya kembali sibuk menggores tinta di buku catatan.

“Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Wali kelas pasti tidak akan melepaskannya.” Donghae bergidik mengingat betapa kerasnya ibu wali kelas mereka. Wanita separuh abad yang rambut hitam legamnya selalu tersanggul itu tentu tak akan melepas salah satu anak didiknya yang nakal di penghujung kelulusan seperti ini. Nasib anak-anaknya tengah dipertaruhkan demi masa depan. Ia tak akan membiarkan satu pun dari anak didiknya gagal dalam di ujian akhir.

“Aku tidak tahu. Tapi beliau mengatakan bahwa ia akan menyerahkan Kyuhyun padaku.”

Kening Donghae mengerut─melempar wajah tak mengerti pada temannya yang masih sibuk menulis. Hyukjae yang merasa ditatapi seketika mendongak, lalu menggeleng dan mengibaskan tangan. “Tidak apa-apa. Aku hanya butuh doamu agar aku bisa mengubah anak itu.”

.

Tak ada pilihan selain ia harus duduk di kelas hari itu. Kemarin Kyuhyun baru saja mendapat peringatan dari wali kelasnya untuk yang entah keberapa. Telinga Kyuhyun dibuat merah setelah mendengar ceramah panjang-panjang dari wanita itu. Hal ini bukanlah suatu hal yang Kyuhyun suka meski ini sudah menjadi kebiasaannya keluar-masuk ruang guru. Apalagi akhir-akhir ini ia mendengar nama Hyukjae disebut-sebut. Dan Kyuhyun baru sadar, bahwa ia terus dipanggil karena aduan dari mulut anak itu. Kyuhyun pantas untuk memanggilnya tukang pengadu.

“Cho Kyuhyun!”

“I-iya Bu.” Kyuhyun tergagap. Mengalihkan pandangan dari bahu Hyukjae yang semenjak tadi ia pandangi ke wajah wali kelasnya yang sedang memandangnya geram.

“Kau tidak mendengar penjelasan Ibu?”

Kyuhyun menunduk. Urung membalas.

“Mulai sekarang kau harus mengikuti jam tambahan. Hyukjae yang akan menemanimu.”

“Apa?” Kyuhyun kembali mendongak─merasa tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Jam tambahan? Jam tambahan untuk murid yang sudah keterlaluan tololnya?

“Nilaimu semakin turun. Dan sikapmu itu semakin tidak terkendali. Jadi ibu menyerahkanmu pada Hyukjae. Dia ketua kelas dan nilai-nilainya cukup tinggi. Ibu harap kau bisa merubah sikapmu dan nilaimu dengan bantuan Hyukjae.”

Bibir Kyuhyun mengatup. Rahangnya mengeras. Kali ini benar-benar tak berniat menjawab. Hatinya sudah terlalu panas menahan emosi.

“Bagaimana Hyukjae, apa kau keberatan?”

Suara wali kelasnya kembali terdengar. Dari sudut matanya Kyuhyun bisa melihat anak itu menggeleng sembari mengulas senyum. “Tidak Bu.”

.

“Cho Kyuhyun, berhenti! Kau belum bisa pulang. Masih ada yang harus kita diskusikan.” Hyukjae berlari-lari kecil di lorong yang masih sepi. Selepas bel terakhir berbunyi, Kyuhyun cepat-cepat melangkahkan kakinya dari kelas─mendahului teman-temannya yang masih sibuk membenahi mejanya.

Kyuhyun yang merasa dikejar, segera berhenti. Tubuhnya berbalik  hingga mata tajamnya berhasil menghentikan langkah Hyukjae yang berjarak dua meter dari tempatnya.

“Aku tidak mau.” Kyuhyun menekan suaranya. Berharap anak itu tidak lagi memaksanya untuk belajar.

Dan sepertinya itu berhasil karena anak itu masih diam di sana. Kyuhyun lalu mendengus dan berbalik. Ingin segera mencari tempat yang dapat menenangkan suasana hatinya.

Tapi kemudian suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih pelan namun masih cukup terdengar.

“Sikapmu seperti anak-anak. Begitukah cara ibumu mendidikmu? Begitukah caramu untuk membalas jerih payah ayahmu? Kau sama sekali tidak berniat untuk berubah?”

Tanpa disadarinya kedua tangan Kyuhyun mengepal. Tidak tahan lagi, ia sontak menolehkan kepalanya. Hanya sampai batas bahunya, ia tak memandang Hyukjae yang masih berdiri di sana.

“Sudah kubilang jangan urusi urusanku. Kau tidak mengenalku jadi menjauhlah.” Tanpa menunggu balasan dari anak lelaki itu, Kyuhyun segera pergi. Melangkah lebar-lebar dan tak berpaling ke belakang lagi─meninggalkan Hyukjae yang masih memperhatikan punggungnya di koridor yang mulai terisi.

.

Kyuhyun melempar tasnya di meja. Sepertinya ia datang terlalu pagi hari ini. Hanya ada beberapa anak yang baru datang, selebihnya bangku-bangku lain masih kosong. Sesuatu yang jarang Kyuhyun lihat karena ia selalu datang terlambat.

Kyuhyun mendesah kesal. Sebenarnya ini tidak akan terjadi jika ia sendiri tidak muak untuk berlama-lama di rumah. Ayahnya tadi pagi tiba-tiba pulang. Tubuhnya terhuyung seraya mendobrak-dobrak pintu. Mulutnya tidak berhenti merapalkan kata-kata makian. Dan ibunya yang sama-sama berperangai kasar segera memukulinya begitu membukakan pintu.

Di pagi buta, rumahnya sudah terdengar rusuh. Kyuhyun tidak bisa bersabar lagi, hingga di sinilah dirinya berada. Duduk di bangku paling ujung di kelasnya dengan kepala yang rasanya bisa meledak kapan saja.

Kyuhyun ingin sekali menemukan orang yang bisa ia tanyai, kenapa Tuhan begitu tak adil padanya? Kenapa Tuhan sama sekali tidak mendengar doa-doanya? Kenapa Tuhan tega melahirkannya dari pasangan yang sekejam itu? Kenapa semua ini ditimpakan untuknya?

Tapi Kyuhyun urung─ia terlalu takut dan tak percaya pada orang-orang. Sikap baik orang di depannya bisa saja hanya topeng yang menutupi mulut berisik mereka. Kyuhyun hanya takut, bahwa kehidupannya tercampuri. Ini masalahnya. Ia yang merasakan, ia pula yang harus menanggungnya.

Kyuhyun hendak menenggelamkan wajahnya di balik sikunya yang sudah bersedekap di atas meja ketika jari tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu di bawah mejanya. Sebuah roti dan sebotol air putih.

Kening Kyuhyun berkerut. Bertanya-tanya apa sebelumnya ada orang yang duduk di bangkunya. Tapi ini masih terlalu pagi.

Kyuhyun mengedikkan bahu, tidak peduli. Kebetulan perutnya memang sudah kosong sejak semalam. Persetan milik orang, Kyuhyun pun segera memakannya dengan suka-cita.

.

“Kyuhyun, untuk hari ini saja jangan kabur lagi. Kau hanya punya waktu satu bulan untuk menyusul ketinggalanmu dan mendalami banyak materi. Untuk kali ini saja, kumohon belajarlah yang sungguh-sungguh.”

Saat itu tepat setelah bel akhir pelajaran berbunyi, Hyukjae berdiri dari duduknya dan menghampiri mejanya. Raut mukanya masih seperti biasa, tenang. Hanya saja kali ini anak itu bersuara dengan nada memohon.

Kyuhyun nyaris berteriak gila, merasa takjub dengan sikap keras kepala sang ketua kelas. Dari sekian banyak anak di sekolahnya, Hyukjae satu-satunya orang yang berani mendekatinya hanya untuk memintanya belajar. Anak itu pun cukup bernyali untuk mengadukan setiap pelanggarannya ke guru.

Selama ini Kyuhyun meyakini, anak itu tidak benar-benar peduli. Ia melakukan semua ini tak lebih dari kewajibannya sebagai ketua kelas dan anak kesayangan ibu wali kelas. Dengan kebaikannya yang seakan peduli padanya, anak itu mendapat banyak pujian. Seperti itulah, orang yang gila pujian. “Baiklah. Tapi aku hanya punya waktu satu jam. Tidak lebih.”

Hyukjae mengangguk. “Baik.”

Lalu kembali ke mejanya untuk mengumpulkan buku-buku yang perlu dipelajari Kyuhyun. Ia kembali dengan beberapa buku tebal dan sebuah buku tulis. Buku itu diulurkannya pada Kyuhyun.

Alih-alih menerimanya, Kyuhyun terdiam dan memandangnya dengan alis menyatu.

“Ini ringkasan dari kelas-kelas yang kau lewati dan beberapa materi yang aku percaya sulit untuk kau pahami. Tapi aku sudah memberikan contoh-contoh soal di sana. Kau pasti tidak akan terlalu kesulitan setelah mempelajarinya.”

Satu ujung bibir Kyuhyun terangkat, mencemooh. “Aku tidak percaya kau gila pujian sampai sejauh ini.”

“Apa?”

“Kau melakukan semua ini demi pujian dari anak-anak dan guru, kan?”

Mendengarnya Hyukjae tertawa kecil.

“Begitukah menurutmu?” Kyuhyun tidak yakin apa barusan Hyukjae sedang bertanya padanya, karena setelah itu pun anak itu berhasil memojokkannya pada berpuluh-puluh soal perhitungan.

Keadaan tidak terlalu membaik beberapa hari setelahnya. Hyukjae memang berhasil menahan Kyuhyun setiap jam sekolah berakhir. Tapi nilai-nilai Kyuhyun tak kunjung membaik. Itu karena Kyuhyun sama sekali tidak berniat mendengar apa yang Hyukjae ajarkan.

Sampai pada suatu sore di akhir pekan itu─ ketika kakinya tidak sengaja melewati sebuah rumah bercat abu-abu pucat yang ditetumbuhi tanaman merambat, Kyuhyun tidak sengaja melihat Hyukjae berdiri di sana, di balik gerbang. Dari tempatnya ia masih bisa mendengar suara Hyukjae yang sedang berbicara dengan seorang pria.

“Aku tidak bisa ke sana sekarang Paman.”

“Tapi kemarin sudah kutanyakan pada gurumu kalau kau bisa pergi beberapa hari, lalu kembali ke sini sebelum ujian berlangsung. Kudengar nilaimu sudah sangat baik.”

“Ya. Tapi aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.”

“Apa? Apa yang tidak bisa kau tinggalkan? Ibumu sedang koma di sana. Kau tidak merindukannya? Tidak ingin menemaninya?”

Tidak ada jawaban untuk beberapa lama. Tanpa Kyuhyun bisa kendalikan tiba-tiba jantungnya berdentum lebih kencang.

“Aku ingin. Ingin sekali. Hanya saja, di sini ada seorang  teman yang masih membutuhkanku. Aku tidak ingin meninggalkannya begitu saja. Dan lagi aku terlalu takut kosentrasiku akan langsung hilang setelah melihat keadaan ibu.”

Hyukjae mendongak. Sinar matahari pagi tampak bersinar di matanya yang berair. “Aku mohon. Tinggal beberapa minggu lagi Paman. Aku ingin menyelesaikan semua urusanku di sini dengan baik sebelum menemani ibu di Jepang.”

Tidak ada suara Hyukjae yang terdengar lagi di telinganya karena kaki Kyuhyun sudah berbalik untuk berlari cepat dari sana. Sampai ia berhenti di suatu gang sepi. Napasnya terasa sesak. Mungkin karena ia memaksa kakinya untuk berlari jauh. Tapi mengingat kata-kata Hyukjae tadi, dadanya semakin sesak. Seakan menghimpit paru-parunya.

Tanpa bisa Kyuhyun cegah, air matanya turun deras ke pipinya. Pagi di pertengahan musim panas yang sejuk itu, Kyuhyun menangis setelah menyadari bahwa selama ini ia memiliki seorang teman. Seorang teman yang diam-diam memperhatikannya, mempedulikannya dan mementingkannya lebih dari dirinya sendiri.

.

Kyuhyun berdesakan bersama anak-anak yang bergerumun di depan papan pengumuman. Hari penantiannya datang setelah hari-hari berat ujian ia lewati dengan mudah. Hari ini ia tinggal mencari namanya di sana, memastikan kalau ia benar-benar lolos.

Senyum Kyuhyun mengembang lebar. Ia sudah memastikan nomor itu sama dengan nomor ujiannya. Ia berhasil. Dan lebih tidak percaya lagi, nomornya berderet dalam sepuluh besar nilai terbaik di sekolahnya.

Kyuhyun segera melangkahkan kakinya cepat. Kepalanya berputar ke sekeliling. Harusnya dia ada di sini juga untuk melihat pengumuman. Bersorak gembira dengan teman-temannya karena ia berhasil menjadi juara nomor satu sebagai anak yang mendapat nilai tertinggi. Tapi ia tidak ada. Kyuhyun tidak bisa menemukannya.

Anak lelaki itu pun mendekati Donghae yang biasanya selalu mengekori Hyukjae.

“Di mana dia?”

“Oh?” Donghae berhenti berbicara dengan sekawanannya dan mendongak ke wajah Kyuhyun yang berdiri di depannya.

“Maksudmu Hyukjae? Dia sudah pergi ke Jepang sejak hari terakhir ujian. Liburan panjang kemarin pun ia masih ada di Jepang. Sepertinya ibunya masih koma.” Raut wajah Donghae berubah sedih mengingat keadaan teman baiknya yang sedang dilanda duka. Tapi ia masih berusaha melempar senyum kecil pada Kyuhyun dan bertanya dengan ramah.

“Bagaimana dengan hasil ujianmu Kyu?”

“Baik,” balas Kyuhyun singkat. Matanya menerawang jauh ke tengah lapangan, menyadari bahwa perasaanya semakin tak karuan.

* * *

“Jadi ini tempat pertama yang kau kunjungi setelah jauh-jauh pulang kuliah dari London?”

Tubuh jangkung Kyuhyun berbalik membuat suara derak dari kursi kayu yang ia duduki. Melihat siapa yang sedang berdiri di depan kelas dan tersenyum kecil ke arahnya, Kyuhyun seketika beranjak dengan raut wajah terkejut.

“Aku mendengar dari Donghae kalau kau pulang hari ini. Tapi aku tak percaya kalau kau benar-benar datang ke sini seperti yang Donghae katakan. Jadi aku datang ke mari untuk memastikannya.”

Dengan senyum yang lebih lebar, Hyukjae berjalan mendekati Kyuhyun. Mengangkat tangannya dan menepuk pundak Kyuhyun keras lalu menyapanya hangat, “Selamat datang kembali, teman. Kabarmu baik, kan?”

Kyuhyun balas tersenyum lembut. Senyum pertama yang sudah lama ingin ia tunjukkan pada Hyukjae. Senyum kebahagiaan dan kebanggaan bahwa ia mempunyai seorang teman terbaik bernama Lee Hyukjae.

.

Best friend are like stars, you don’t always see them but they are always there..

* * *

Author Note: Fanfic ini sudah pernah dipublikasikan di blog pribadiku dan blog saladbowldetrois. ^^

Thanks for reading yah~

Publised By Allison

Advertisements

One thought on “[ Kyuhyun ] ONESHOT || Summer Memory

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s