[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 4)

Tittle    : My wife, my enemy # Conflic 4

Genre  : Siapa saja yang mau baca

Cast     : _Yesung as Kim Jong Woon

_ Jang Mi Ran

_ Shin Na Mi

_ Cho Kyuhyun as His self

_ Other cast

The Most Real Inspiration by : Dini De’Forest (FB)

Terima kasih atas waktu luangnya ^^ please correction~~~

*********

Jang Mi Ran POV

Aku menutup mulut dan mata rapat-rapat begitu tubuhku masuk ke dalam air. Ketika di dalam sana aku membuka mata, aku terbelalak mendapati tubuhku terkunci sempurna dengan tubuh Jong Woon. Jantungku sontak melonjak tak karuan. Aku berusaha meronta untuk melepaskan diri darinya lalu berenang ke permukaan. Namun tangan kekar Jong Woon tak juga mau melepaskan tubuhku. Karena tak kuat lagi menahan nafas, aku membuka mulutku, lantas berliter air mulai memasuki kerongkonganku secara paksa dan sejenak menghentikan pernafasanku. Aku benar-benar kehilangan udara untuk bernafas. Aku tak tahan lagi. Segalanya menjadi buram sekarang. Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku selanjutnya karena kemudian yang ku lihat hanya kehampaan yang hitam.

*********

Aku melihat eomma dan appa mengulurkan tangan padaku. Aku berlari ke arah mereka lantas memeluk mereka erat. Appa membawaku ke dalam gendongannya lalu tanpa beban yang berarti, ia mengangkat tubuhku dan menciumi wajahku. Eomma juga seolah tak ingin kehilangan moment bersamaku. Ia menarik aku dari rangkulan appa lalu menciumiku dengan perasaan seorang ibu yang penuh cinta. Lalu aku? Air mataku mengucur deras. Urat mata ini terasa panas begitu menyadari bahwa pemandangan yang ku saksikan di depan mataku sendiri itu adalah sosok eomma dan appa, serta aku yang masih balita. Kenyataan pahit yang menimpaku menyadari bahwa pelukan dan ciuman hangat itu tak lagi aku rasakan hingga saat ini, membuatku dadaku pilu dan jantungku berlomba memacu keluar dari tempatnya karena terlalu sesak menatap kejadian itu.

Aku baru saja merasakan pengalaman sekarat luar biasa begitu tiba-tiba mataku terbuka dan tertimpa cahaya. Aku menggerakan tangan dan sadar bahwa aku telah kembali ke dunia nyata. Kakiku yang memar pun terasa kian pilu begitu aku sedikit menggerakannya.

“Nona, kau sudah sadar? Omo…” aku bisa mendengar suara Nyonya Chang yang tampak terkejut lalu tertatih-tatih menaiki ranjangku. Tangannya terjulur memeriksa suhu tubuhku lewat dahi, lalu ia tampak senang begitu tak menemukan suhu yang tak normal dalam diriku.

“Akan ku buatkan teh herbal untuk nona,” katanya sambil beranjak dari kasur. Sepeninggalannya, aku berusaha duduk dan merasakan sakit yang luar biasa menyerang kepalaku.

“Kau sudah sadar?”

Mataku membulat mendengar suara Jong Woon. Begitu mendongak, benar saja, dia sudah berdiri di ambang pintu yang lantas kehadirannya itu memulihkan semua ingatanku. Aku menggeram lalu loncat dari kasur mengabaikan sakit kakiku. Aku menerjang Jong Woon lalu menarik-narik rambutnya dengan kekuatan amarahku yang sudah di ubun-ubun.

“Aww!! Apppooo! Hentikan Jang Mi Ran!!” pekiknya kelimbungan tak bisa mencegahku menjambak-jambak rambutnya.

“Kau!! Berani-beraninya kau menjatuhkan aku ke dalam kolam, hah!!” pekikku tak kalah keras. Aku benar-benar kesal hingga tak mendengarkan rintihannya yang kian menjadi. Beberapa helai rambutnya sudah rontok berada di genggamanku namun aku tak peduli. Wajahnya sudah memerah karena kesakitan, sementara wajahku sudah memerah karena marah.

“Kyaaa!! Nona, tuan muda, apa yang sedang kalian lakukan?!” Nyonya Chang sontak melerai pertikaian kami. Ia berhasil mengangkat tubuhku dan menjauhkannya dari tubuh Jong Woon. Aku yang memang seperti kerasukan setan, terus saja meronta-ronta minta dilepaskan karena merasa belum puas menganiaya Jong Woon.

Beberapa menit setelah itu, aku sudah duduk di depan meja menghadap ke arah Jong Woon dengan tatapan membunuh. Kalau saja Nyonya Chang tidak mengancam akan mengadukan perbuatanku tadi kepada haraboji, mungkin sekarang Jong Woon sudah mati di tanganku. Dia juga tak kalah kesalnya menatap ke arahku sambil sesekali meratapi rambutnya yang nyaris rontok semua karena aku.

“Nona, tuan, jika kalian bersikap kekanakan seperti tadi, aku tak akan segan-segan mengadukannya kepada Tuan Besar,” ancam Nyonya Chang lagi dengan suara lembutnya seperti beludru, namun tegas menghujam pilu. Aku yang merasa muak berada disituasi seperti ini, lantas pergi meninggalkan ruang makan dan mengurung diri di ruang baca. Aku membuka buku matematika yang ku ambil dari perpustakaan semalam, lalu mulai mempelajarinya dengan serius. Awas saja kau, Kim Jong Woon. Tidak akan ku biarkan kau berbuat semena-mena terhadapku!

 

Kim Jong Woon POV

Shim Sonsaengnim memanggilku ke ruang guru ketika aku tengah mengerjakan jurnal harianku di ruang osis. Begitu tiba di sana, beberapa guru menyapaku sopan dan aku balas dengan membungkukan sedikit badanku.

“Ah, Jong Woon, sini!”

Shim sonsaengnim melambai-lambaikan tangannya padaku dari balik meja kerjanya. Aku bisa melihat banyak kerutan di wajahnya yang kian menua. Matanya meredup dan tampak lelah. Beliau mempersilahkan aku duduk di kursi terdekat, dan menghadapnya.

“Ada apa, sonsaengnim?” tanyaku lembut. Jujur, dia adalah salah satu guru yang sangat ku hormati karena dia terlampau baik untuk mengajar di kelas terburuk di sekolah ini.

“Begini, Jong Woon. Aku harus menghadiri acara reuni kampusku sekarang, sementara aku juga harus menilai ujian matematika siswa tingkat akhir kelas bawah. Jadi..” Shim sonsaengnim membenarkan posisi duduknya. “aku minta tolong padamu untuk mengoreksi nilai ujian anak kelas bawah. Bagaimana?”

Aku terdiam dan tidak terkejut sama sekali. Memang sudah banyak guru yang sering meminta bantuanku untuk hal serupa, dan ini bukan sesuatu yang berat untukku. Langsung saja aku mengangguk tanpa berpikir dua kali, dan Shim sonsaengnim tampak bahagia sambil menyerahkan lembar kerja para siswa yang harus ku periksa. Aku langsung pamit keluar dan berjalan santai menyusuri koridor sekolah. Beberapa siswi menyapaku dan bahkan ada yang terang-terangan mengumbar senyum padaku. Haaaah, sebegitu populernyakah aku? Tapi mengapa Na Mi tidak bisa berpaling padaku? Apakah ada yang salah pada diriku yang tidak aku ketahui? Lalu aku harus bagaimana agar dia bisa melihat hanya padaku?

Aku menghela nafas berat. Berkali-kali ku pikirkan pun tetap saja tak ku temukan jawabannya.

“Ah, Jong Woon, dari mana saja kau? Tadi Shim sonsaengnim mencarimu,” Hee Chul langsung menyerbuku dengan seberondol pertanyaan dan pernyataan begitu aku masuk kembali ke ruang osis.

“Ya. Aku baru saja dari sana,” jawabku sambil mengangkat kertas file berisi hasil ujian siswa. “Beliau menyuruhku memeriksa ini.”

Hee Chul tampak menyipitkan mata. “Ujian kelas bawah? Berarti punya gadis arogan itu juga?”

Aku terhentak dan baru tersadar begitu Hee Chul menyebut nama ‘gadis arogan’. Siapapun tahu bahwa nama yang dimaksud oleh Hee Chul tadi adalah Jang Mi Ran. Tiba-tiba kulit kepalaku terasa ngilu mengingat beberapa minggu lalu Mi Ran menjambak-jambak rambutku. Meski pun aku salah telah membuatnya terjatuh ke kolam bersamaku, namun tetap saja perbuatannya yang menganiaya mahkotaku jauh lebih tak termaafkan.

Entah mengapa aku jadi bersemangat memeriksa hasil ujian kali ini. Dengan cepat aku duduk ke kursiku lalu membongkar kertas file di tanganku. Aku membolak-balik kertas mencari milik Mi Ran, dan dapat! Dengan telaten dan teliti aku pun mulai memeriksa hasil ujiannya. Setelah agak lama aku memeriksa, aku terperangah dengan hasil hitungan penilaianku sendiri. Jang Mi Ran mendapatkan nilai 72!! Gadis bodoh, arogan, dan tak tahu aturan itu akhirnya memecahkan rekor nilai terbaiknya yang semula tak pernah lebih dari 50. Entah dia mengerjakannya sendiri atau menyontek orang lain, yang pasti dia sudah berhasil memenangkan pertaruhan ini. Haha. Ini sungguh menarik.

Aku menyeringai dengan sudut bibir terangkat ke atas.

 

Jang Mi Ran POV

Aku masih sibuk membaca komik hunter x hunter terbaru dengan headphone berukuran sedang di kedua telingaku yang mengalunkan lagu anime kesukaanku. Sesekali aku menatap ke sekeliling kelas yang luar biasa berisik. Siswa-siswi labil ini sibuk dengan kegiatan mengoceh dan bercanda mereka yang tak mengenal batas hak siswa-siswi lain yang membutuhkan ketenangan. Pantas saja ini disebut kelas terendah karena isinya hanya pecundang-pecundang dekil yang mementingkan kesenangan dibandingkan pelajaran.

Aku melepas headphone dan meletakan komikku di dalam laci meja begitu ku lihat Hee Chul memasuki kelas dengan tampang angkuhnya─yang tampak bodoh bagiku─seperti biasa. Keadaan hening seketika. Siswa-siswi di kelas ini kembali ke kursi mereka masing-masing dan fokus pada namja bodoh itu di depan.

“Ehem!” dia berdehem sebentar seolah meminta perhatian lebih dari kami. Aku mencibir dari balik kursi sambil menyumpahinya pelan dengan apapun segala jenis kejelekan di muka bumi ini.

“Shim sonsaengnim menyuruhku untuk membagikan hasil ujian matematika ini pada kalian, karena beliau berhalangan hadir untuk menghadiri sebuah acara,” lantangnya sambil kemudian mulai membagikan hasil ujian kami satu persatu. Begitu namaku dipanggil, aku maju ke depan dan mendapati Hee Chul dengan intens menatap setiap pergerakanku.

“Hah. Tidak ku sangka gadis sepertimu bisa mendapatkan nilai seperti ini,” katanya dingin sambil menyerahkan hasil ujianku dengan tidak rela. Aku melipat kertas itu dan dengan gugup kembali ke meja. Inilah saat-saat paling penting dalam hidupku. Semua yang ku miliki di pertaruhkan pada nilai ini. Aku tidak akan membuat Jong Woon semena-mena padaku, dan aku hanya butuh angka 70 untuk mematahkan kesombongannya itu.

Perlahan ku buka lipatan kertas ujianku. Hatiku berdebar-debar melihat coretan tinta merah menghiasi halaman utama. Sejenak aku terhentak untuk kemudian larut dalam ketidakpercayaan yang panjang. Angka 69 terpampang besar seolah menertawakanku dalam diam.  Aku gagal. Ani, tapi aku kalah. Kalah oleh Kim Jong Woon. Tanpa sadar aku meremas kertas ujianku dengan keras, seakan semua kekesalanku tertumpu di sana. Aku memang idiot. Pabo, pabo, pabo!! Aku benar-benar pabo! Apakah perjuanganku selama berminggu-minggu untuk belajar keras tidak mampu menembus angka 70?? Apa usahaku selama ini kurang?!

Sekarang aku baru menyadari satu hal. Bahwa aku benar-benar pecundang.

 

Kim Jong Woon

Aku membolak-balik halaman majalah otomotif dengan senyum yang betah sekali hinggap di bibirku. Tak ku pedulikan acara talkshow di televisi yang ku setel beberapa waktu lalu. Aku hanya ingin menikmati saat-saat kemenanganku, dan aku sangat bersemangat menanti kepulangan gadis itu.

“Hari yang bagus, Tuan?” Nyonya Chang menyuguhkan segelas teh hangat padaku. Aku menutup majalah yang ku baca, lalu tersenyum pada Nyonya Chang sambil mengambil teh yang disuguhkannya kemudian menyesapnya pelan.

“Gomawo, Nyonya. Cuaca di luar memang sangat bagus,” kataku sambil lagi-lagi mengumbar senyum yang tak pernah lepas dari bibirku.

“Hmm, benar,” Nyonya Chang menanggapi. Matanya beralih menatap jam dinding dengan cemas. “Kenapa Nona Mi Ran belum juga pulang?” katanya lirih. Aku turut melirik ke arah jam dinding yang kian mendekati senja. Benar, mengapa gadis itu belum pulang juga?

Clek, blam. Aku mendengar suara pintu terbuka, lalu menutup lagi.

“Aku pulang, Nyonya Chang,”

Aku terkesiap mendengar suara gadis itu di pintu depan. Nyonya Chang beranjak untuk menyambutnya, lalu aku mengikutinya di belakang.

“Mengapa sore sekali, Nona?” tanya Nyonya Chang seraya mengambil ransel yang dilemparkan gadis itu ke sembarang tempat. Yang ditanya malah tampak tak peduli. Begitu Nyonya Chang mengamankan ranselnya ke kamar, Aku menampakkan diri ke hadapannya. Dia tampak terkejut melihatku. Sekuat tenaga ku sembunyikan seringai kecilku. Aku mengulurkan tanganku padanya.

“Mana nilai ujian matematikamu?” pintaku setenang mungkin. Mi Ran memalingkan muka dengan wajah dingin dan pasrah.

“Sudah ku buang,” katanya ketus dan enggan. Alisku mengkerut, “Dibuang? Kenapa? Apakah karena nilaimu buruk?” sindirku sambil melipat kedua tanganku di dada. Dia menatapku tajam. “Mengapa kau bisa menyimpulkan bahwa nilaiku buruk?”

Aku mengangkat bahu, “Jika nilaimu bagus, kau tidak mungkin membuang kertas ujianmu,”

Mi Ran mencibir. Dia melempar segumpal kertas yang telah ia remas-remas sambil berlalu pergi. Aku tersenyum sinis tanpa berniat membuka gumpalan kertas yang dilemparkannya padaku.

“Hei, kau harus mematuhi perintahku mulai sekarang!” teriakku penuh kemenangan. Aku mendengar suara pintu kamar tertutup dengan keras. Benar-benar menyenangkan membuat Mi Ran seperti itu.

************

Malam ini aku melihat Mi Ran pendiam sekali. Ia menyantap makan malamnya dengan tenang. Wajahnya datar dan dingin seperti biasa. Aku menerka-nerka, apakah dia sukarela menerima kekalahannya, atau justru tertekan dalam diamnya? Aku terlalu sibuk memperhatikannya dari sebrang meja hingga aku tak menikmati chicken beef  kesukaanku. Aku hanya memasukkannya dalam mulut tanpa ku resapi. Menyebalkan, gadis ini pintar sekali mengalihkan duniaku.

Ketika waktu senggang, aku melihatnya tengah menonton acara kartun kesukaannya sambil mengemut lolipop. Dia duduk di sofa sambil bersila. Entah karena terlalu fokus pada televisi atau apa, ia sama sekali tidak bergeming ketika aku datang lalu duduk di sebelahnya. Aku menatapnya sebentar yang masih fokus pada televisi di depan. Iseng ku ambil remote yang tergeletak di sampingnya, lalu ku ganti pada siaran opera yang tak terlalu ku suka. Dia tampak terkejut, lalu melotot padaku. Lihat, akhirnya dia menatapku kan?

“Kau! Kenapa kau ganti, hah?!” bentaknya tak terima. Aku menoleh santai seolah tak peduli. “Lalu kenapa? Aku suka acara ini, dan aku ingin menontonnya,”

Mi Ran tampak menggeram seolah ingin menerkamku hidup-hidup. Dan benar saja, tiga detik kemudian, dia meloncat ke arahku dan berusaha sekuat tenaga untuk mengambil remote yang ku pegang. Aku berusaha mengelak, lalu terjadilah pertempuran yang tak terhindarkan. Mi Ran menindih tubuhku yang goyah dan berusaha sekuat tenaga untuk menggapai remote yang ku acungkan tinggi-tinggi dengan tangan kiri. Kami bergumul di sofa, dan tak ayal cakaran kukunya mendarat di tubuhku yang hanya di selimuti kaos santai berlengan pendek.

Mataku fokus pada wajahnya yang mengguratkan emosi. Aku menyeringai menampakkan sederetan gigiku dengan sempurna. Ini benar-benar menyenangkan sekali. Kaosku nyaris terbuka semua karena ulahnya. Lama-lama aku berpikir, dia ingin mengambil remote atau memperkosa aku??? #God!!

“Omoooo!! Tuan! Nona!” Nyonya Chang memekik melihat perkelahian kami. Kami terkejut lantas menghentikan pertengkaran konyol ini. Bersama-sama kami merapikan kondisi kami yang berantakan. Mi Ran merapikan rambutnya yang acak-acakan, sementara aku membenarkan kaosku yang seperti kedodoran. Nyonya Chang menghampiri kami, dan entah mengapa wajahnya memancarkan semburat merah yang membuatnya tampak muda di usianya yang kian senja.

“Mian, Tuan, Nona, saya mengganggu. Tapi saya sarankan jika ingin me-la-ku-kan-nya, tolong lakukan di kamar saja,”

Aku dan Mi Ran menganga lebar. What the‒  oh my God! Nyonya Chang pasti salah paham.

“Tidak, Nyonya. Ini tidak seperti yang Nyonya pik‒ emmpph”  Mi Ran membekap mulutku sambil cengengesan kepada Nyonya Chang.

“Maaf, Nyonya. Kami akan melanjutkannya di kamar.”

What??!! Apa katanya??

Anganku tengah melayang entah kemana ketika tanpa sadar Mi Ran menarikku ke kamar. Aku baru sadar ketika mendengar suara pintu tertutup. Aku langsung bertolak pinggang dengan tampang kesal.

“Apa yang kau katakan, hah??!!” teriakku marah. Dia malah mencibir sambil berjalan ke kasur mengabaikanku. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan gadis ini.

“YA!! Kau belum menjawab pertanyaanku!!!” teriakku lebih tinggi. Mi Ran malah membenamkan dirinya pada selimut. Kepalanya ia tenggelamkan pada bantal. Aku yang kian kesal, berjalan menghampirinya. Ku tarik selimut yang menutupinya dengan kasar, hingga tampaklah dirinya yang tengah berbaring miring, menekukkan lututnya hingga nyaris menyentuh perut. Aku nyaris tertegun melihat celana pendek gombrangnya yang tersingkap ke atas. Mi Ran terduduk dengan rambut dan wajah yang sama-sama berantakkan. Wajahnya terlampau sembab bila dikatakan berkeringat mengingat cuaca malam di luar yang cukup dingin.

“Kau senang sekali menggangguku, huh? Apakah kau tidak puas sudah mengalahkanku?” tanyanya dengan intonasi rendah namun tegas dan dingin. Aku tertegun beberapa saat untuk mencerna apa yang telah terjadi pada dirinya. Dia masih Mi Ran yang sama, tapi mengapa begitu berbeda? Sialnya, aku tak tahu dimana yang berbeda. Aku hanya menyimpulkan dari perasaanku saja. Dan itu…. Sungguh mengganguku.

Drrrtt.. drrrtttt…

Ku rasakan ponselku bergetar. Aku merogoh saku dan mendapati nama Na Mi terpampang di display ponsel.

“Shit!!” Mi Ran mengumpat entah karena apa. Dia loncat menuruni bad king size lalu keluar kamar sambil menutup pintu keras-keras. Aku hampir saja larut dalam keterpakuan yang panjang karena tingkahnya jika saja tidak ingat Na Mi menghubungiku.

Klik. “Yeboseo, Na Mi~ya?”

“Hallo, Jong Woon. Maaf mengganggu malammu. Aku hanya …”

Aku selalu senang berbicara dengan Na Mi. Dia gadis ceria dan jarang sekali menampakkan kesedihannya. Seperti sekarang, Na Mi bercerita tentang pertengkarannya dengan Jungsu, namun dia tak pernah mengumbar kesedihannya apalagi menangis. Kadang dia menjadikan masalahnya sebagai lelucon yang benar-benar lucu hingga kadang membuatku terpingkal ketika dia menceritakannya. Tapi terlepas itu semua, aku tak pernah bisa menolak menjadi pelariannya.

Setelah hampir satu jam mengobrol dengan Na Mi di telepon, aku kembali teringat dengan Mi Ran. Aku mencarinya ke ruang baca untuk membuat perhitungan.  Tapi aku tak menemukannya di sana. Aku menyusuri seisi rumah tapi tak satu pun tempat dimana aku menemukannya. Baiklah, dia mulai membuatku khawatir. Dan sekedar pengoreksian, membuat perhitungan dengan Mi Ran bukan lagi menjadi sebuah eksekusi, melainkan alasan. Aku merasa harus menemuinya karena sesuatu dalam hatiku yang terlalu ingin tahu. Sekedar memberikan kepuasan batin kurasa.

Aku mengetuk pintu kamar Nyonya Chang. Dan walau pun dia selalu bersikap hormat padaku dan Mi Ran, ini terlalu berbeda ketika dia dengan takzim dan sungkan membuka pintu kamarnya.

“Nyonya, apa ka melihat Mi Ran?” tanyaku to the point.

“Nona…” Nyonya Chang tampak ragu. Perlahan dan pasti dia membuka lebar pintu kamarnya, lalu aku melongok ke dalam dan mendapati gadis itu tengah tertidur pulas di kasur Nyonya Chang.

“Tadi Nona kesini dan menyuruhku membuatkan susu. Tapi ketika kembali, Nona sudah tertidur di kasur saya, dan saya tidak berani membangunkannya. Nona tampak lelah.”

Aku menghela nafas pendek. Nyonya Chang memang terlampau lembut untuk memperlakukan Mi Ran dengan tegas. Bagaimana pun, Mi Ran tetaplah cucu Jang Haraboji, majikannya.

“Aku akan membawanya ke kamar,” kataku sambil masuk ke kamar Nyonya Chang untuk pertama kalinya. Benar saja, tidur Mi Ran sangat pulas. Aku bisa melihat perubahan dia akhir-akhir ini sejak kejadian di kolam beberapa minggu lalu. Apakah dia sangat stress dengan pertaruhan kami hingga dia menjadi lebih dingin dari sebelumnya? Bagaimana pun, aku sudah merubah nilainya, dan aku tidak ingin ini berjalan setengah-setengah hanya karena rasa ibaku yang selalu memberontak sewaktu-waktu.

Aku menggotong Mi Ran, dan demi apapun, tubuhnya ringan sekali. Aku pernah bilang untuk selalu mengabaikan gadis sepertinya. Tapi entah karena apa, dia selalu bisa mematahkan argumenku. Aku berusaha sekuat tenaga menggotongnya tanpa mengusiknya dari tidur.

“Gomawo Nyonya,” hanya kata itu yang bisa ku sampaikan pada Nyonya Chang sebelum akhirnya pintu kamarnya tertutup kembali. Aku masih di depan pintu kamar Chang. Terdiam, dengan beban ringan tubuh Mi Ran dalam genggaman kedua tanganku. Aku memperhatikan gadis ini, dan baru menyadari satu hal, bahwa wajahnya terlampau lelah untuk ukuran gadis seumurnya. Sebenarnya apa yang selalu kau pikirkan? Pertanyaan itulah yang selalu ingin ku utarakan padanya, tapi tak pernah sampai.

Entah dorongan setan dari mana, aku menempelkan dahiku pada dahinya, dengan harapan konyol bahwa aku bisa membaca pikirannya. Tapi nihil. Yang ku temukan justru lekuk wajahnya yang semakin jelas, dan tampak berbeda bila ku lihat dari jauh.

Dia sangat cantik, sungguh. Itulah kesimpulanku.

 

 

TuBerCulosis­­_ _ _

 

Tinggalkan jejak ya dengan berkritis ria ^^

Publised by Allison

Advertisements

4 thoughts on “[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 4)

  1. nahh lhoo jong woon, mulai curang demi kpuasan diri sendiri. biasa’a yg kaya gini nii yg ngejerumusin jadi jatuh cinta nantinya..hahahaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s