[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 3)

Tittle    : My wife, my enemy # Conflic 3

Genre  : Siapa saja yang mau baca

Cast     : _Yesung as Kim Jong Woon

_ Jang Mi Ran

_ Shin Na Mi

_ Cho Kyuhyun as His self

_ Other cast

The Most Real Inspiration by : Dini De’Forest (FB)

Terima kasih atas waktu luangnya ^^ please correction~~~

 

********

Jang Mi Ran POV

Aku mengambil nafas kuat begitu Yoon Ki oppa melepaskan tautan kami. Dia tersenyum sambil menghapus jejak lipglossku yang masih tersisa dengan satu ujung jari.

“Lihat, sudah bersihkan sekarang,” katanya sambil tersenyum manis. Yoon Ki oppa benar-benar tidak berubah. Membuatku malu saja. Kemudian aku teringat sesuatu. Aku menoleh dan mendapati Jong Woon masih berdiri di samping kami tanpa berkedip.

“Ah, iya, kenalkan,” Yoon Ki oppa mengulurkan tangannya, “namaku Yoon Ki. Jang Yoon Ki, kakak Mi Ran,” ujarnya memperkenalkan diri. Jong Woon sedikit gelagapan seolah berusaha memulihkan kesadarannya entah dari apa. Dia balas menjabat tangan Yoon Ki oppa dengan senyum yang tak bisa ku mengerti.

“Aku tahu kau pasti belum pernah melihatku. Selama ini aku memang tinggal di Eropa, dan baru saja kembali beberapa hari lalu,” jelas Yoon Ki oppa.  Jong Woon tampak membulatkan mulutnya.

“Dan tentang ciuman kami tadi..” tiba-tiba Yoon Ki oppa membahas hal yang tak penting namun sukses membuat Jong Woon menatapnya intens. Aneh sekali.

“Ku harap kau tidak terganggu. Aku sering melakukannya dari dulu padanya, dan mungkin akan terus melakukan hal seperti tadi nantinya. Ini seperti kebiasaan, Jadi mengertilah,” terangnya yang membuatku mencibir dan merutuki Yoon Ki oppa karena telah menjelaskan hal yang seharusnya Jong Woon tidak perlu mengetahuinya. Tapi ku lihat reaksi Jong Woon hanya tersenyum kecut menanggapinya. Syukurlah, jadi ku yakin dia tidak akan peduli dengan hal ini.

“Oppa, ayo nikmati pestanya,” aku menarik lengan jas Yoon Ki oppa. Aku tak ingin berlama-lama bertemu Jong Woon karena itu bisa membuat darah tinggiku naik kapan saja. Untungnya oppa setuju, lalu kami meninggalkan Jong Woon di pintu masuk. Aku dan oppa akhirnya duduk di salah satu sofa. Yoon Ki oppa tampak sangat menikmati hidangan yang tersedia dan dia terus saja menjelajah makanan yang ada. Biarlah, setidaknya dia tidak merasa bosan berada di sini.

DEG! Tiba-tiba jantungku berdebar kencang. Aku merasa ada seseorang yang memperhatikan dan seharusnya memang aku perhatikan. Mataku menjelajah, lalu jantung ini terasa berhenti berdetak kemudian begitu ku dapati Kyuhyun tersenyum padaku dari jarak 500 meter di sofa sebrang sana. Dia tampak begitu menawan dengan setelan jas berdasi hitamnya, yang sukses membuatku meneguk ludah karena saking terpesonanya. Dia mengangkat gelas padaku dan ku sambut dengan seutas senyum yang membuatku salah tingkah. Senyumku memudar begitu ku lihat seorang yeoja jelita menghampirinya. Mereka kemudian saling tertawa seperti terlibat dalam obrolan seru entah apa.

Aku memalingkan muka. Tak ingin berlama-lama melihat adegan itu karena hanya akan membuat hatiku pilu.

“Oppa, aku ingin ke suatu tempat, oppa tunggu di sini ya?” kataku pada Yoon Ki oppa yang tengah asyik memainkan ponselnya.

“Ok. Pergilah,” katanya sambil mengacak-ngacak kasar rambutku. Aku menggerutu sebentar sebelum kemudian pergi meninggalkan tempat pesta. Aku berlari dengan senyum sumringah sambil meninggalkan high heels-ku yang terlepas entah dimana. Susah payah pula ku tahan gaunku dengan kedua tangan. Datang ke sekolah untuk menghadiri prom nite bukanlah tujuan utamaku. Lagipula, cih, mana mungkin aku menyukai acara kekanakan seperti itu.

Aku berlari menembus koridor yang sedikit cahaya. Tidak terdengar lagi suara dentuman pesta yang memekakan telinga. Langkahku terhenti di depan ruang perpustakaan yang terkunci. Aku menelusuri tiap jendela, berharap salah satunya ada yang tidak terkunci, dan, dapat!!

Perlahan ku buka jendela itu lalu memanjat masuk ke dalam. Aku menyalakan lampu lalu mulai menyusuri barisan rak yang panjang. Ini dia yang ku cari. Beraneka macam buku matematika. Aku menghela nafas lega. Sejak pertaruhan dengan Jong Woon tempo lalu, aku benar-benar tidak bisa mengabaikannya. Aku tidak akan bisa tidur tenang kalau belum mengalahkannya. Tapi aku juga tidak bisa menggunakan buku-buku Jong Woon di rumah karena itu hanya akan membuatku malu saja. Dan aku juga tidak bisa meminjam buku-buku ini dari perpustakaan sekolah karena jumlah yang bisa di pinjamkan hanya terbatas, juga aku, Jang Mi Ran, tidak mungkin meminjam buku-buku ini secara terang-terangan di hadapan para siswa. Bisa malu aku ditertawakan. Jadi satu-satunya cara adalah mencurinya, ani, tapi meminjamnya diam-diam.

Aku duduk di salah satu kursi sambil terengah-engah. Aku baru sadar sudah berlari jauh sekali karena jarak antara aula dan perpustakaan memang tidak bisa dikatakan dekat. Aku melirik jam dinding yang menunjukan angka sepuluh. Masih dua jam lagi sebelum acara prom nite selesai. Tiba-tiba aku merasa lelah dan mengantuk sekali. Aku membaringkan kepala di atas meja, dengan lenganku sebagai bantalan. Mungkin tidur sejenak sampai pesta usai akan bisa menghilangkan lelahku. Mungkin Yoon Ki oppa juga tidak keberatan menungguku sendirian disana. Mungkin……………

 

Kim Jong Woon POV

Aku terkejut ketika sebuah tangan menepuk pundakku pelan. Saat ku menoleh, aku mendapati Yoon Ki memasang raut gelisah.

“Jong Woon, aku harus pergi,” katanya tampak panik.

“Memangnya ada apa, hyung?” tanyaku bingung.

“Haraboji kambuh,”

“Apa?!” aku terkejut bukan main. Ku letakkan gelasku pada meja. “Apa aku harus ikut pergi denganmu?”

Yoon Ki menggeleng. “Tidak, tidak. Ini tidak parah, aku yakin. Aku hanya perlu membantunya meminum obat dengan benar. Aku ingin kau di sini menemani Mi Ran,”

“Tapi…” sergahku. Namun Yoon Ki malah memegang pundakku dengan agak kuat. “Tetaplah di sini dan pastikan Mi Ran tidak mengetahui hal ini. Aku harus segera pergi, ok?”

Aku mengangguk pelan. Dia tersenyum sambil menepuk-nepuk pundakku seolah tengah mempercayakan sesuatu. Dan aku benci mengakui bahwa sesuatu itu adalah Mi Ran.

“Dimana Mi Ran, hyung?” tanyaku akhirnya.

“Dia bilang ingin ke suatu tempat beberapa waktu lalu. Aku yakin dia tak jauh dari sini. Baiklah, aku pergi. Sampai jumpa,”

Aku melihat Yoon Ki tergesa-gesa meninggalkan aula. Aku langsung memutarkan badan mencari Mi Ran, berharap gadis itu berada di salah satu sudut dalam aula. Tapi nihil, bahkan sampai MC menutup acara pun, dia sama sekali tak kelihatan batang hidungnya.

“Mianhe, Na Mi,” sesalkan pada Na Mi begitu aku mengantarnya memasuki taksi.

“Tidak apa-apa, Jong Woon. Aku tahu tugasmu sebagai ketua osis itu berat,” dia tersenyum dan malah membuatku merasa bertambah bersalah. Lihat, bahkan aku sudah berani membohongi Na Mi dengan mengatakan bahwa aku tidak bisa mengantarnya pulang karena harus membenahi aula sehabis acara. Padahal itu semua sudah ada tugas dari anggota osis lain yang aku hanya perlu mengontrolnya bahkan dalam balik selimut hangatku sekalipun.

Aku melambaikan tangan pada Na Mi hingga taksi yang membawanya hilang di balik tikungan. Aku lantas berlari ke dalam sekolah. Menelusuri koridor sambil memikirkan kemungkinan tempat yang akan didatangi Mi Ran. Tapi lagi-lagi nihil. Otakku benar-benar tidak bekerja sekarang. Aku mengambil nafas sambil menyandarkan diri ke tembok. Sekolah sudah benar-benar sepi. Para siswa pasti sudah pulang semua dan terlelap dalam mimpi mereka menantikan libur esok hari. Sedangkan aku? Hah. Tak perlu ku bahas lagi.

Mataku menangkap cahaya dari salah satu ruang yang gelap gulita. Tak perlu menunggu lama dan menerka-nerka, aku berlari lagi menuju asal cahaya, dan, perpustakaan?? Aku berjinjit mencoba mengintip ke dalam. Bingo! Akhirnya aku menemukannya. Entah kenapa aku jadi bernafas lega sekarang. Ckckckckckck. Anak ini benar-benar merepotkan. Aku memanjat ke salah satu jendela yang terbuka dan ku yakin Mi Ran pun pasti melewati jendela yang sama. Aku melangkah mendekatinya yang tengah tertidur dengan kepala menelangkup di atas meja. Aku melihat jam dinding yang sudah melewati tengah malam. Baru satu langkah hendak memarahinya, niatku terurung melihatnya tertidur sangat pulas. Lagipula, pakaian apa itu. Mengapa gadis sepertinya memakai gaun sebagus itu? Lalu riasan wajahnya itu….

Glek! Tiba-tiba aku menelan ludah. Wajahku merona melihatnya. Aku memalingkan muka sambil mengumpat. Mengapa aku merasa malu begini melihat dia seperti itu?

“Hei, pabo, bangun,” aku mengguncang-guncangkan tubuhnya. Dia menggeliat lalu mengucek-ngucek matanya yang kabur. Riasan wajahnya sedikit berantakan karena terhapus meja dimana kepalanya tadi bersandar. Dia menatapku linglung sebelum akhirnya terlonjak kaget.

“Ya! Kim Jong Woon! Apa yang kau lakukan di sini, heh?”

Aku mencibir sambil melipat kedua tanganku. “seharusnya aku yang bertanya! Apa yang kau lakukan di sini, hah?! Kau lihat sudah jam berapa sekarang?” cercaku kesal. Dia lalu melirik jam dinding sambil menggerutu tak jelas. Kalau bukan karena permintaan kakaknya, sudah ku tinggalkan saja dia sendirian tidur di perpustakaan ini sampai pagi. Huh.

“Ayo pulang!” titahku lugas. Dia cemberut sambil bangkit dari kursi. Sekilas aku melihatnya mengambil buku dari rak terdekat lalu ia sembunyikan di balik gaunnya.

“Buku apa itu? Kau pikir kau bisa seenaknya mengambil buku di perpustakaan ini?” aku bertolak pinggang.

“Akan ku kembalikan besok.” Sergahnya ketus. “rewel sekali,” lanjutnya lagi sambil berlalu  menuju jendela. Aku mendengus sambil berusaha sabar menghadapinya. Tentu saja aku tak ingin anemiaku kumat gara-gara dia.

Aku melihatnya susah payah menaiki jendela dengan gaunnya yang lebar. Sekarang dia benar-benar mirip Mi Ran yang ku kenal. Anak hutan.

Sreet.. Buk!! “Aww! Appo..”

Aku terkejut mendengar suaranya terjatuh. Secepat kilat aku menyusulnya menyebrangi jendela, dan mendapati Mi Ran tengah terduduk di lantai sambil meringis kesakitan. Dia pasti melompat lalu terkilir. Hah, dia memang pantas mendapatkannya. Suruh siapa dia menggunakan gaun itu. Huh. Mau tak mau aku pun mengulurkan tanganku.

“Ayo cepat berdiri. Hari sudah sangat malam dan aku mengantuk sekali,” ujarku ketus. Ya, memang aku sadar ini sedikit keterlaluan, tapi dengan anak ini, mana bisa aku bersikap lembut.

Plak, aku terkejut mendapati tanganku ditepis kasar olehnya. “Tidak usah!” katanya dingin yang entah kenapa membuatku sangat geram. Berani-beraninya dia menolak uluran tanganku.

“Ya sudah, kalau kau tidak perlu bantuanku, aku yakin kau bisa pulang sendiri!” bentakku dingin sambil berjalan meninggalkannya. Aku benar-benar sudah tak mau peduli padanya.

 

Jang Mi Ran POV

Mataku panas melihatnya berjalan menjauhiku. Aku kembali meringis merasakan urat kakiku berdenyut lagi. Ini sangat sakit, sungguh. Tapi uluran tangannya tadi…. Cih! Siapa yang mau ditolong oleh orang yang menunjukan raut keterpaksaan seperti itu! Sampai kakiku patah pun, aku tak akan mau menerima uluran bantuannya.

Aku mencoba berdiri lalu berjalan tertatih-tatih menuju gerbang sekolah sambil menahan sakit yang teramat sangat. Di sekolah yang gelap dan lengang ini, aku bisa mendengar suara rintihanku sendiri dengan jelas. Sepertinya kakiku bengkak. Ani, tapi memang sudah bengkak.

Begitu sampai halaman, aku melihat Jong Woon pergi meninggalkan sekolah dengan motor besar yang setiap hari dia gunakan. Entah kenapa aku jadi terpaku. Dia benar-benar pergi. Pergi meninggalkanku seperti ini. Hah, dia benar-benar Kim Jong Woon yang ku kenal. Tanpa sadar aku mengusap wajahku yang meneteskan airmata. Aku mencengkaram dadaku. Rasanya di dalam sini… sakit sekali. Lebih sakit dari sekedar kakiku yang membiru. Aku mendongakkan wajah ke langit malam yang bertabur bintang. Airmata ini harus segera berhenti agar aku bisa pulang. Airmata ini harus segera berhenti agar aku bisa menjadi diriku lagi.

Maka dikegelapan malam inilah aku berjalan seperti orang pincang menuju halte bus. Butuh waktu lima belas menit lebih lama untuk sampai kesana hingga akhirnya aku bisa mengistirahatkan diri di kursi panjang halte. Hanya mengistirahatkan diri, tanpa berharap bisa menaiki bus malam ini karena tentu saja jam segini sudah tidak ada lagi bus yang lewat. aku yakin Yoon Ki oppa pun sudah pulang dan berpikir bahwa aku akan pulang dengan didampingi Jong Woon. Aku tak ingin Yoon Ki oppa berpikir bahwa aku tidak bahagia dengan hidup yang ku jalani sekarang, walaupun toh kenyataannya seperti itu. Semua yang ku jalani selama ini semata-mata hanya demi kakekku. Untuk membuatnya terus hidup, aku harus bisa menunjukan kebahagiaanku menikah dengan orang yang dipilihnya.

Dan orang itu, Kim Jong Woon, aku tak akan pernah menyerah darinya.

 

Kim Jong Woon POV

Aku baru saja hendak menekan bel, namun tiba-tiba telunjukku berhenti 1 centi dari bel. Aku merasa ada sesuatu yang salah disini. Apa tidak apa-apa jika aku pulang tanpa Mi Ran? Apa tanggapan Nyonya Chang nantinya? Aku menurunkan telunjukku, lalu bersandar di dinding pintu. Bukan itu sebenarnya masalahku. Tapi, apa tidak apa-apa aku meninggalkan Mi Ran dengan keadaan seperti tadi? Tapi bukan salahku jika dia tidak mau menerima bantuanku. Tapi tetap saja, mengingat Yoon Ki menitipkan adiknya itu padaku, lalu hari yang semakin malam ini……

Aaakhh!! Aku menggaruk-garuk kepalaku gusar. Perang batin ini semakin membuatku panik dan menyudutkanku pada rasa bersalah yang teramat. Aku bukan seseorang yang akan menoleh ke belakang lalu menyusul gadis seperti Mi Ran. Tapi aku juga bukan seseorang yang bisa mengabaikan orang-orang seperti Mi Ran. Apalagi dengan kondisinya yang habis terkilir tadi. Searogan apapun Mi Ran, dia tetap seorang yeoja. Dan dia bukan gadis yang setangguh ku kira. Lalu aku harus berbuat apa?

Kreek.. aku terhentak dari kebingungan yang panjang begitu mendengar suara pagar halaman terbuka. Aku nyaris tak percaya melihat Mi Ran pulang dengan raut dingin dan langkah gontai. Dia tampak kesulitan dengan langkahnya sendiri ditambah tangannya yang sibuk menahan gaunnya. Lalu kakinya.. dia telanjang?? Kemana high heels yang tadi dia pakai saat pesta? Ah, aku baru sadar bahwa dia tidak mengenakan sepatu sejak di perpustakaan. Dia mendekat ke arahku, namun mengabaikanku seolah aku tak ada di sini. Dia menekan bel, dan dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat wajahnya yang berantakan dan sangat lelah. Lalu aku kembali melihat kakinya yang kini agak tertutup gaunnya karena dia berhenti menarik gaun itu ke atas. Meskipun begitu, aku bisa melihat lebam keunguan di kaki kanannya dan sedikit membengkak. Tiba-tiba ada sebersit rasa aneh menyelip hatiku, membuatku merasa sangat bersalah melihatnya seperti itu.

Cklek, “kalian baru pulang?” Nyonya Chang membuka pintu dengan piyama tidurnya. “larut sekali,” tambahnya lagi. Lalu dia tampak celinguk ke belakang, “kemana tuan Yoon Ki? Bukankah tadi nona pergi bersamanya?” tanya Nyonya Chang pada Mi Ran. Aku melirik Mi Ran dan terkejut melihatnya mengumbar senyum pada Nyonya Chang.

“Dia sudah pulang duluan tadi. Aku pulang bersama Jong Woon,” katanya yang nyaris sukses membuatku tampak bodoh di tempat. Kenapa dia harus berbohong pada Nyonya Chang? Apakah dia sengaja ingin menyindirku karena telah meninggalkannya tadi?

“Baiklah, ayo masuk,” Nyonya Chang melebarkan pintu, memberikan kami ruang untuk masuk ke dalam rumah. Langkah Mi Ran yang pincang berhasil menarik perhatian Nyonya Chang.

“Astaga… ada apa dengan kaki nona?” tanyanya panik sambil mencoba mengangkat gaun Mi Ran demi melihat kondisinya. Mi Ran tampak sungkan dengan perlakuan Nyonya Chang lalu ia kelimbungan menurunkan gaunnya untuk menutupi kaki dengan susah payah.

“Aku baik-baik saja, Nyonya. Hanya terkilir,” katanya sambil memasang senyum yang jelas-jelas dipaksakan.

“Aku akan mengambil kompres untuk nona,” Nyonya Chang baru akan berlari ke dapur namun tiba-tiba Mi Ran mencegahnya.

“Tidak perlu, Nyonya. aku yakin Nyonya lelah, begitu pun aku. Jadi Nyonya kembali ke kamar saja dan tidur. Aku juga akan melakukan yang sama. Dan kakiku…” Mi Ran tampak mengangkat gaunnya sedikit. Dia kembali tersenyum, “Kakiku baik-baik saja,”

Bodoh sekali.

Meski tampak ragu, Nyonya Chang akhirnya kembali ke kamarnya. Sepeninggalnya, raut wajah Mi Ran kembali datar. Aku baru hendak menginterupsi dia mengenai suatu hal, namun tiba-tiba dia masuk ke ruang baca dan menutup pintu rapat-rapat. Aku menghela nafas berat untuk kemudian menghembuskannya dengan beban di dada yang sama sekali tak terangkat. Ini memang giliranku tidur di kasur, tapi tetap saja aku merasa ini bukan sesuatu yang benar membiarkannya tidur di sofa ruang baca dengan kaki yang terluka.

Tok tok tok.. aku mengetuk pintu ruang baca. Namun tak ada sahutan sama sekali. Begitu ku putar kenop pintu, ternyata pintunya dikunci oleh Mi Ran. Aku kembali menghela nafas panjang dan membiarkan Mi Ran mengabaikan aku. Aku memang bersalah padanya, namun aku tak akan pernah bisa mengatakan hal itu. Cukup bagiku keadaan menyebalkan seperti ini kami jalani. Meski itu artinya, seumur hidup kami.

 

Jang Mi Ran POV

Aku baru selesai sarapan pagi begitu Nyonya Chang mendudukiku di kursi panjang teras belakang yang menghadap ke arah kolam renang dengan membawa nampan berisi handuk dan air hangat. Rupanya dia sama sekali tak membiarkan lukaku menganggur begitu saja. Aku hanya bisa pasrah dengan perlakuannya, terlebih karena aku merasa bahwa kakiku bertambah bengkak saja setelah ku biarkan semalaman. Aku terlalu lelah berjalan semalam sebelum akhirnya menemukan taksi, meskipun jarak rumahku sebentar lagi, namun sakit di kakiku ini benar-benar tidak bisa berkompromi.

“Omooo… ini sudah membiru sekali nona,” pekik Nyonya Chang sambil menatapku ngeri. Dia mencelupkan handuk ke dalam baskom air hangat lalu memerasnya. Setelah itu, aku merasa nyaman sekaligus ngilu begitu tangannya mendarat di kakiku yang bengkak. Dia mengusap-usapnya dengan handuk itu dengan telaten dan tenang.

“Anda tidak boleh sakit, nona. Tuan Jang pasti sedih jika melihat nona seperti ini,” ujar Nyonya Chang pelan. Aku hanya diam. Pikiranku melayang kepada haraboji. Kakek tidak mungkin mencemaskan keadaanku yang seperti ini. Baginya, aku hanya cucu ternakal yang dia punya, makanya ia memaksaku menikah dengan Jong Woon karena dia sudah tak sanggup lagi mengurusiku. Lagipula, kakek hanya perlu Yoon Ki oppa di sampingnya. Dia tidak memerlukan aku karena aku hanya masalah baginya. Bukan seseorang yang pantas menjadi cucu keluarga Jang, dan ini bukan sesuatu yang harus aku tangisi pada saat ini. Haraboji sangat memuja Jong Woon. Dia selalu membandingkan aku dengannya dan dia ingin aku menjadi seperti Jong Woon yang selalu tampak sempurna di matanya. Satu-satunya cara untuk menebus kelahiranku yang tak diinginkan hanya dengan menikahi Jong Woon dan membuat haraboji bahagia dengan pilihannya.

Benar, haraboji harus bahagia. Dengan membuatku menderita seperti ini, haraboji memang harus bahagia. Aku tidak ingin pengorbananku sia-sia. Haraboji harus bernafas lebih lama agar aku tidak menjadi sebatang kara di dunia.

 

Kim Jong Woon

Ini minggu yang cerah. Nyonya Chang tak pernah membangunkan kami di hari libur, dan membiarkan kami beristirahat menghilangkan penat. Tapi karena terbiasa bangun pagi─meskipun semalam tidur sangat larut─, aku pun bangun dan mendapati meja makan sudah siap dengan menu sarapan pagi. Ada piring dengan remah roti dan pisau selai yang tergeletak disana, yang membuatku menyimpulkan bahwa Mi Ran sudah bangun dan sarapan. Aku berjalan ke arah teras belakang, lalu mendapati Mi Ran tengah terduduk di kursi panjang dengan Nyonya Chang mengurut kakinya pelan menggunakan handuk basah. Gadis itu terus-terusan mendongak ke atas, ke langit yang luas. Meski begitu, aku tahu bahwa pikirannya tengah melayang entah kemana. Tiba-tiba saja aku ingin sekali tahu apa yang tengah ia pikirkan. Tidak, lebih tepatnya aku selalu ingin tahu apa yang gadis itu pikirkan dengan raut datarnya seperti biasa.

“Nah, sekarang nona tidak boleh banyak bergerak dulu. Kalau ada apa-apa, panggil saya saja,”

“Gomawo, Nyonya Chang,”

Sepeninggal Nyonya Chang, aku berinisiatif mendekatinya.

“Bagaimana keadaan kakimu?” tanyaku berusaha lembut.

“Sangat baik,” jawabnya acuh. Pandangannya lurus ke arah kolam renang. Aku ingin sekali menunjukkan sikap peduliku padanya, namun aku tak tahu bagaimana. Tiba-tiba saja dia berdiri hendak pergi, dan entah setan apa yang merasukiku, refleks ku raih pergelangan tangannya.

“Kau mau kemana?” tanyaku penasaran. Dia melirik tanganku yang singgah dengan erat di tangannya.

“Bukan urusanmu, dan tolong, jangan memegang tanganku seperti itu,” katanya keberatan. Gadis ini benar-benar membuatku geregetan. Begitu dia berpaling hendak meneruskan langkahnya, tanpa sadar aku menarik tangannya lebih keras hingga ia tertarik ke arahku. Hanya seperkian detik ketika tubuh kami berbenturan sebelum akhirnya kami jatuh bersamaan ke dalam kolam renang akibat limbung yang tak ter-elakan.

Aku merasakan banyak air masuk ke mulut dan hidungku, namun lebih dari itu, aku merasa terkejut mendapati posisi kami yang tenggelam dengan saling berpelukan.

 

TuBerCulosis­­_ _ _

 

 

Tinggalkan jejak ya dengan berkritis ria ^^

Publised by Allison

Advertisements

3 thoughts on “[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 3)

  1. Hidup Menderita demi Haraboji nya hhhheeemm semoga aja nanti mereka bisa hidup jd suami istri yg sesungguhnya secepatnya hehhhheeeee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s