Nae Yeoja Baboya (Part 2)

River Thames and Tower Bridge at Dusk, London, England</p><br />
<p>(c) Travelpix Ltd, John Lawrence, Getty Images

Title             : Nae Yeoja Baboya (Part 2)

Author                   : Arisa

Genre          : Romance

Rating          : PG13

Maincast      :

-Lee Hyuk Jae

-Lee Seonya

annyeong ^^

saya balik lagi dengan si kunyuk 😀

happy reading aja deh 😉

-Author POV-

“Selamat melepaskan masa lajang, Hyuk.” Tiba-tiba para member Super Junior sudah berada di ruang ganti Eunhyuk. Saat ini Eunhyuk tengah bersiap-siap untuk pernikahannya dengan Seonya.

Melihat teman-temannya, Eunhyuk hanya tersenyum kecut. “Hyung, bagaimana kalau kau saja yang menikah? Kan yang paling tua itu kau Hyung bukan aku.” Ujar Eunhyuk memelas pada Leeteuk.

“Tapi jodohmu datang duluan Hyuk. Mau gimana lagi?” Jawab Yesung enteng. Yang lain hanya tertawa melihat Eunhyuk yang tidak terlihat bahagia menjelang hari pernikahannya. Apalagi ia masih agak trauma dengan Seonya karena yeoja itu telah menendang daerah sensitifnya. Bagaimana kalau setelah tinggal bersama yeoja itu makin liar? Memang sih ia ada sedikit rasa suka pada Seonya, tapi dia benar-benar tidak siap dinikahkan secepat ini.

“Hyuk, kau sudah siap? Cepat lah kau ke Altar.” Tiba-tiba kedua orang tua Eunhyuk masuk ke ruang ganti Eunyuk.

“Ah, ne.”

“Kau terlihat tampan hari ini.” Ujar Eomma Eunhyuk sambil merapikan sedikit bunga yang tersemat di tuxedo putih anaknya itu.

“Kau sebentar lagi akan jadi seorang suami, bahagiakanlah istrimu ya.” Kini Appa Eunhyuk mendekat kearah Eunhyuk dan Eomma-nya lalu menepuk-nepuk pundak Eunhyuk pelan.

“Eunhyuk-ah! HWAITING!” Teriak para member Suju memberi dukungan pada Eunhyuk. Eunhyuk hanya tersenyum dan mengangguk menanggapinya lalu segera berjalan keluar untuk menuju altar.

~oooOooo~

-Eunhyuk POV-

Dengan perasaan berdebar aku menanti Seonya di Altar ini bersama seorang pendeta. Aku sangat gugup melihat orang-orang yang hadir yang semuanya memandang kearahku, aku hanya menunduk sambil sesekali melihat kearah pintu yang terletak tak jauh dihadapanku.

“Pengantin wanita sudah tiba.” Suara dari seorang pembawa acara yang membahana di seluruh ruangan ini membuat dadaku mendadak jadi semakin berdebar. Kini semua yang hadir berdiri dan mengarahkan pandangan mereka kearah pintu, termasuk aku.

Dari pintu yang agak bersinar karena tertimpa matahari itu kulihat seorang yeoja yang wajahnya masih kurang jelas karena tertimpa cahaya dengan seorang namja yang sudah cukup aku kenali, Lee Soo Man, calon mertuaku. Dengan langkah perlahan mereka berdua berjalan kearahku. Saat sudah makin dekat, jelaslah sekarang wajah Seonya dan Soo Man yang tersenyum kearah semua hadirin. DEG! OMO~ kenapa dia terlihat sangat cantik dan anggun? Berbeda sekali dengan Seonya yang menendang selangkanganku tanpa perasaan 2 hari lalu itu.

Di sela-sela kegiatanku memperhatikan Seonya, tiba-tiba ku dengar ada suara yang agak berbisik memanggil-manggil namaku. Aku pun menoleh kearah itu, kulihat Donghae menunjuk-nunjuk ka arah ku dan mulutnya bergantian, sedangkan Kyuhyun yang berada disebelahnya terlihat sedang menahan tawa. OMO~ aku baru sadar ternyata dari tadi mulutku agak menganga karena melihat Seonya. Aish~ dengan cepat aku langsung mingkem dan kembali menatap kearah depan. Kini kulihat Seonya berada tepat di depanku, aku hampir menganga lagi tapi kali ini aku bisa mengendalikan diri.

“Jaga anakku baik-baik.” Ujar Soo Man pelan sambil menyerahkan tangan Seonya padaku. Aku pun langsung menyambut tangan Seonya dan mengangguk mantap kemudian bersama Seonya menghadap kearah pendeta.

“Kau siap?” Bisikku pelan. Seonya hanya mengangguk kecil.

“Lee Hyuk Jae. Apakah kau bersedia menerima Lee Seonya sebagai istrimu? Disaat senang ataupun sedih. Kaya ataupun miskin. Sehat ataupun sakit. Menerimanya sepenuh hati sampai maut memisahkan?”

“Ne, aku bersedia.”

“Lee Seonya. Apakah kau bersedia menerima Lee Hyuk Jae sebagai suamimu? Disaat senang ataupun sedih. Kaya ataupun miskin. Sehat ataupun sakit. Menerimanya sepenuh hati sampai maut memisahkan?”

“Ne, aku bersedia.”

“Dengan ini kalian telah sah menjadi suami istri. Mempelai pria di persilahkan mencium mempelai wanitanya.” Mwo? Mencium Seonya? Aish~ aku lupa kalau memang selalu ada adegan ini setelah pernikahan. Apa aku harus menciumnya? Dengan ragu aku memutar badanku menatap Seonya, kulihat ia juga sedang menatapku sambil memasang wajah ketakutan. Aish~ aku jadi tidak enak.

Dengan gerakan lambat aku menarik pinggang rampingnya mendekat kearahku. Perlahan ku dekatkan wajahnya dengan wajahku, ia hanya menutup matanya rapat-rapat, aish~ benar-benar membuatku tidak enak untuk menciumnya.

CHUUU~

Akhirnya aku hanya mengecup dahinya sejenak lalu segera melepaskannya, aku tersenyum sambil menatap lekat wajahnya. Entahlah, kurasa aku mulai suka berlama-lama menatapnya. Kini ia juga menatapku dengan pandangan heran, untuk beberapa detik kami saling menatap sampai akhirnya ia membuang pandangannya ke samping.

“Yaahhh…kok kisseu nya cuma di kening?” Kudengar seruan dari beberapa orang hadirin yang mendesah kecewa. Sebenarnya aku juga kecewa sih, tapi yasudahlah, toh untuk sekarang kami belum saling mencintai.

~oooOooo~

-Author POV-

Setelah melalui proses pernikahan dan resepsi yang berlangsung tertutup, sekarang Eunhyuk dan Seonya sedang duduk istirahat di sofa dalam rumah baru mereka. Rumah yang cukup besar untuk ditinggali mereka berdua, didalamnya ada dua kamar tidur, jadi mereka pun sepakat untuk tidur terpisah, Eunhyuk di kamar depan sedangkan Seonya sengaja memilih kamar yang di belakang karena ada kamar mandinya sendiri.

“Ya~ Hyuk Jae-sshi?” Panggil Seonya pada Eunhyuk yang sekarang sedang memejamkan matanya karena lelah.

“Hmm?”

“Kau sudah tidur ya?”

“Hmm. Wae?”

“Kalau mau tidur ganti lah baju mu dulu. Masa’ kau mau tidur menggunakan tuxedo seperti itu?”

“Nanti saja, aku masih lelah.” Jawab Eunhyuk.

“Ngomong-ngomong, kenapa tadi kau tidak mau mencium bibirku?” Tanya Seonya. Sebenarnya dia agak malu menanyakan hal ini, tapi dia benar-benar penasaran.

“Memangnya kau mau aku menciummu di bibir? Aku bisa melakukannya sekarang kalau kau mau.” Kini Eunhyuk membuka matanya dan menatap Seonya sambil tersenyum misterius.

“Ya! Jangan coba-coba Hyuk Jae-sshi! Pokoknya kau tidak boleh dekat-dekat denganku atau aku akan membunuhmu.” Ancam Seonya dengan muka merah karena sebenarnya dia ketakutan akan di apa-apakan oleh Eunhyuk.

“Jinchayo?” Kini Eunhyuk malah makin mendekat kearah Seonya.

“YAK!” Dengan cepat Seonya berdiri dan berlari menjauh sampai ke depan pintu kamarnya. Eunhyuk hanya tertawa melihat tingkah Seonya. “Jangan berani mendekatiku atau aku akan melapor pada Appa!” Teriak Seonya lalu segera masuk kekamarnya.

~oooOooo~

Pagi ini adalah pagi pertama Seonya dan Eunhyuk menjalani kehidupan sebagai seorang suami istri. Khusus hari ini, Eunhyuk di perbolehkan untuk libur oleh SM, sedangkan Seonya memang sedang libur kuliah. Sudah jam 8 pagi tapi kedua manusia itu masih saja asyik dengan mimpinya masing-masing. Sampai akhirnya sebuah bunyi yang cukup keras dari ponsel Eunhyuk membuat Eunhyuk terpaksa menggerakkan tubuhnya untuk menggapai-gapai meja di samping kasurnya tempat ia meletakkan ponselnya.

“Yeoboseyo?” Ujar Eunhyuk tanpa membuka matanya.

“Eunhyuk-ah!”

“Hmm…nugu?” Tanya Eunhyuk masih malas.

“Aish~ benar kan kataku. Mereka pasti sudah melakukannya, dengar saja suara Eunhyuk masih kelelahan dan mengantuk.”

          “Ah kalau begitu kita mengganggu dong.” Bisik-bisik yang sangat keras dari seberang sana membuat Hyuk Jae tersadar dan langsung bisa menebak siapa yang menelepon ini.

“Ya! Ya! Apa maksud kalian?”

“Ah, Hyuk Jae. Bagaimana rasanya?”

          “Kau pasti tidak butuh video yadong lagi kan sekarang?”

“YAK! Jangan bicara macam-macam! Tidak usah menelepon lagi, kalian menggangguku!” Bentak Eunhyuk lalu segera menutup ponselnya dan membantingnya ke kasur. “Dasar! Mengganggu saja pagi-pagi.”

Dengan langkah gontai dan hanya memakai singlet dan boxer ia turun dari kasur lalu menuju dapur, berharap istri baru nya itu telah memasakkan sesuatu untuknya. Tapi sesampainya di dapur, ia hanya bisa mendumel karena tidak ada apa pun. Tentu saja tidak ada apa-apa, Seonya bahkan belum bangun dari kasurnya.

“Aish~ bocah itu.” Dengan geram Eunhyuk melangkahkan kakinya menuju kamar Seonya, di bukanya pintu kamar Seonya yang ternyata tidak dikunci. “Ya! Kau! Cepat bangun! Masakkan sesuatu untukku, aku lapar.” Teriak Eunhyuk di dalam kamar Seonya. Tapi gadis itu tetap saja tidur seperti tidak mendengar teriakan Eunhyuk sama sekali.

Eunhyuk tahu Seonya pasti mendengar teriakannya, tapi yeoja itu lebih memilih untuk acuh. Eunhyuk pun kembali memutar otaknya mencari cara yang bagus untuk membangunkan istri barunya ini. Tiba-tiba sebuah smirk tercetak di bibirnya saat ia mendapatkan ide. Dengan langkah perlahan ia mendekati kasur Seonya dan menatap wajah Seonya lekat.

“Chagiya~ apakah kau menunggu morning kiss dari ku dulu baru kau akan bangun?” Bisik Eunhyuk sambil agak mendesah di telinga Seonya.

-Seonya POV-

Walaupun sebenarnya aku sudah bangun dari jam setengah delapan tadi, tapi aku belum mau beranjak dari kasurku, karena aku yakin namja itu pasti belum bangun. Nanti kalau aku bangun duluan, dia malah menyuruh-nyuruhku seperti pembantu lagi, cih, mana mau aku. Padahal kan biasanya pagi-pagi gini Han ahjumma selalu mengantarkan sarapan untukku, dan aku tidak perlu repot-repot. Tapi sekarang? Aish~ bagaimana sarapanku ya? Ah nanti aku suruh namja itu saja yang membuatnya.

Samar-samar terdengar suara teriakan-teriakan seperti membentak dari kamar Eunhyuk. Tapi bicara dengan siapa dia? Ah sudahlah biarkan saja, aku tunggu saja dia membangunkanku sampai kesal dulu. Haha.

“Ya! Kau! Cepat bangun! Masakkan sesuatu untukku, aku lapar.” Kudengar suara nya yang mulai berteriak di depan kamarku, tapi aku tdak peduli, aku ingin membuatnya berteriak-teriak sampai kesal dulu, baru aku bangun. Aku masiih memejamkan mataku, hmm tapi kenapa tidak ada teriakan-teriakan lagi darinya? Apa dia sudah menyerah untuk membangunkanku?

“Chagiya~ apakah kau menunggu morning kiss dari ku dulu baru kau akan bangun?” Aku merinding seketika begitu mendengar sebuah bisikan yang agak mendesah di telingaku. Dengan cepat aku membuka mataku dan sekarang terlihatlah wajah Eunhyuk tepat di depan wajahku dengan gummy smile nya.

“YAK! Apa yang kau lakukan?!” Bentakku langsung duduk dan memundurkan tubuhku sejauh mungkin darinya.

“Wae? Kau menunggu morning kiss dariku kan?” Kini ia malah duduk di pinggir kasur dan menatapku dengan senyum seduktif.

“YA! YA! Berhenti kau, jangan mendekat lagi!” Aku semakin mundur sampai akhirnya kurasakan punggungku sudah menyentuh tembok.

“Kau tidak bisa kemana-kemana lagi chagi.” Sekarang ia merangkak di kasur dan mendekat kearahku. OMO~ apa yang akan dilakukannya? ‘Appa kumohon selamatkan putri mu yang cantik ini.’ Doaku dalam hati sambil memejamkan mataku kuat-kuat.

“HUAHAHAHAHA!” Aku langsung membuka mataku begitu mendengar tawanya yang tiba-tiba. Sekarang kulihat ia sedang memegangi perutnya sambil nungging untuk menahan tawa. Apa-apaan dia? “Dasar babo! Kau kira aku akan melakukan apa padamu? Huahahaha.” Kini tawanya makin lebar dan semakin membuatku geram.

DUAK! #(anggap aja deh ya bunyi tendangan kayak gitu :p)

          Dengan sekali gerakan ku tendang pantatnya yang merusak pemandangan itu sampai akhirnya ia jatuh kebawah. Sekarang kulihat ia sedang meringis kesakitan, senyuman puas pun terkembang di bibirku..

“Argghh! Kenapa kau itu hobby sekali menendang sih? Sakit tahu.” Kini ia mengelus-elus perutnya, mungkin tadi ia jatuh dengan posisi telungkup.

“Cih! Siapa suruh kau mempermainkanku?”

“Kau tidak kasihan denganku heh? Aku lapar sekali, lihatlah perutku yang sudah kurus ini. Kau mau membuatku makin kurus ya?” Tiba-tiba ia mengangkat singletnya dan memperlihatkan perutnya yang…OMO~ memang sih kurus. Tapi, aku sama sekali tidak menyangka ternyata dia sixpack!

“Sudahlah jangan bising. Cepat keluar dan mandi, akan kupikirkan dulu apa aku akan memasak untukmu atau tidak.” Aku mendorong punggungnya keluar lalu mengunci pintu kamarku.

“Gomawo chagiya~” Teriaknya dari luar. Seketika kurasakan wajahku memanas mendengar suaranya yang manja itu. Aish~ namja itu kenapa harus bertingkah seperti itu? Dan lagi perutnya tadi, ah, harus kuakui perutnya itu, yah cukup menggoyahkan iman.

“OMO~ kenapa aku jadi membayangkan yang tidak-tidak sih? Kau tidak boleh tergoda dengannya Lee Seonya! Tidak boleh!”

~oooOooo~

“Apa makanannya sudah siap?” Tiba-tiba kudengar suaranya mendekat kearahku yang sedang menuangkan air panas pada ramyun instan ini.

“Sebentar la…” Seketika kata-kataku terhenti saat melihatnya kini berada di belakangku dengan hanya memakai handuk yang menutupi bagian pusar sampai atas lututnya saja. Ia pasti habis mandi karena rambutnya terlihat masih basah, benar-benar sexy. OMO~ kenapa dia terlihat sangat menggoda? Belum lagi otot perutnya yang…arggh…aku bisa gila kalau begini terus!

“Kau masak apa?”

“Cepat pakai bajumu atau akan kusiram kau dengan air panas ini?!” Ia pun kaget mendengar teriakanku yang tiba-tiba. Tapi sedetik kemudian sebuah senyum mengembang dibibirnya.

“Baiklah.” Ia pun berjalan menjauh, aku langsung mengelus dadaku lega. “Ternyata aku memang benar-benar menggoda ya.” Teriak Eunhyuk dari dalam kamar, aku yakin sekarang wajahku pasti memerah.

‘Lee Seonya babo! Kenapa kau dengan sangat terang-terangan seperti tadi menunjukkan ke’salting’an mu hah?’ Batinku frustasi.

~oooOooo~

-Author POV-

Sudah berulang kali Eunhyuk mengetuk pintu kamar Seonya tapi yeoja itu tetap saja tidak mau membukanya. Eunhyuk bingung sendiri dengan tingkah Seonya, padahal ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Dia tidak tahu kalau sebenarnya Seonya masih enggan bertemu Eunhyuk karena kejadian saat membuat ramyun instan tadi. Seonya merasa Eunhyuk selalu menggodanya walaupun sebenarnya itu tidak sengaja.

“Ya! Lee Seonya! Cepat keluar dan kita makan bersama.” Eunhyuk masih berdiri di depan pintu kamar Seonya sambil mengetuk-ngetuk pelan.

“Ani! Kau makan saja sendiri. Aku tidak mau melihat wajahmu.” Teriak Seonya untuk kesekian kalinya dari dalam kamar.

“Aish~ yeoja itu kenapa sih?” Eunhyuk pun menyerah dan mulai melangkahkan kaki menuju dapur. Dilihatnya semangkok ramyun yang sudah agak mengembang. Dengan malas disantapnya ramyun buatan Seonya.

“Hmm…tidak buruk. Setidaknya ini masih lebih enak daripada buatan Kyuhyun.”

Kini Eunhyuk sudah selesai sarapan. Dilihatnya jam masih menunjukkan pukul 10, ia pun memutuskan untuk ke Dorm saja daripada nggak ada kerjaan di rumah. Seonya juga sepertinya belum berniat membuka pintu kamarnya untuk Eunhyuk, yang dilakukannya di kamar hanya melanjutkan tidurnya yang agak terganggu tadi pagi.

~oooOooo~

“Aish~ namja itu kemana sih? Sudah jam 7 belum pulang juga. Jangan-jangan dia menyeleweng lagi? Ah, memangnya apa urusanku? Toh dia bukan siapa-siapaku. Biarkan saja sana mau nyeleweng atau apa. Aku tidak peduli.” Omel Seonya panjang lebar entah pada siapa.

Tapi walaupun mulutnya berkata begitu, sebenarnya ia agak merasa sepi juga tanpa Eunhyuk. Karena seumur hidup Seonya, hanya Eunhyuk lah satu-satunya orang yang benar-benar berinteraksi langsung dengannya selain Appa serta Eomma-nya yang sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Teman-temannya selama ini pun hanya sekedar tahu dirinya saja karena dia cantik, pintar, dan kaya. Bahkan Seonya tidak begitu mengingat nama teman-temannya itu. Bisa dibilang Seonya sangat kekurangan kasih sayang, karena itu lah ia tidak tahu bagaimana caranya untuk membuka diri pada orang lain. ‘Makin banyak mengenal orang, maka akan makin banyak pula masalah yang kau rasakan berkenaan dengan orang-orang itu.’ Itu lah prinsip Seonya.

Soal sopan santun? Ah dia hanya mendapatkan pelajaran itu dari sekolah dan Eomma-nya saja, bahkan Appa-nya saja tidak terlalu perduli karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Yang terpenting baginya Seonya tidak kekurangan materi dan saat berada di depan teman-teman bisnis nya Seonya bisa bersikap manis dan anggun. Setelah itu terserah yeoja itu mau melakukan apa. Untung saja Seonya anak yang cukup dewasa sehingga ia bisa memahami kesibukan Appa-nya. Baginya semua yang di berikan Lee Soo Man padanya, walaupun hanya dalam bentuk harta, itu sudah merupakan salah satu bentuk kasih sayang.

“Aish~ aku kan tidak punya nomor ponselnya.” Ujar Seonya saat hendak menelfon Eunhyuk. Ia pun mengurungkan niatnya dan kembali cemberut.

“Baiklah, ini sudah keterlaluan Lee Hyuk Jae! Sudah jam 9 malam dan kau sama sekali belum menunjukkan batang hidungmu.”

Cklek! #(anggap aja ini suara pintu dikunci ya :p)

          “Sudah kuputuskan kau tidur diluar malam ini! Huh.” Dengan cepat Seonya masuk ke kamarnya untuk tidur. Tidak di pedulikannya lagi namja itu yang sekarang entah masih berada dimana. Sesampainya dikamar Seonya pun langsung tertidur lelap karena ke capek an menggerutu dari tadi.

Sementara itu, Eunhyuk yang sekarang baru sampai di depan pintu rumahnya dengan Seonya karena tadi ditahan para member di Dorm, mulai bingung karena pintu depan tidak mau dibuka.

“Ya! Ya! Kenapa pintunya tidak mau dibuka? Lee Seonya jangan bercanda! Cepat buka pintunya!” Teriak Eunhyuk sambil menggedor-gedor pintu. Untungnya walaupun rumah mereka tidak terlalu besar, tapi halamannya sangat luas sehingga kecil kemungkinan teriakan Eunhyuk akan didengar tetangga.

“Yak! Babo! Masa’ kau mau membiarkan aku tidur diluar? Disini sangat dingin!” Teriak Eunhyuk untuk kesekian kalinya. Tapi percuma, karena Seonya itu kalau sudah tidur seperti orang mati, sangat susah dibangunkan. Sementara hujan mulai turun membuat udara semakin dingin.

“Ohiya, jendela dapur dibelakang kan nggak diteralis. Masuk lewat sana bisa kali ya?” Eunhyuk pun segera menuju ke belakang rumah dan mencari jendela dapur yang menjadi harapan satu-satunya karena memang hanya jendela itu yang belum di teralis. “Cih, bocah itu, main kunci pintu dan tidur aja padahal jendelanya nggak ada yang terkunci.” Decak Eunhyuk saat melewati jendela kamarnya yang ternyata masih terbuka.

“Ah untung lah dia tidak mengunci semua jendela, jadi aku bisa masuk dengan mudah. Haha.” Ujar Eunhyuk saat melihat jendela dapur yang ternyata memang tidak dikunci juga.

Gluduk…Gludukk…CTTERRR! #(nah yang ini anggap bunyi petir ya :p)

          “Uwooo…” Teriak Eunhyuk kaget karena bunyi petir disusul hujan yang makin deras. Dengan cepat ia melompat melewati jendela yang tidak terlalu tinggi dan tersenyum senang saat sudah menginjakkan kaki didalam rumah. Ia pun langsung berjalan menuju kamarnya.

“Siapa itu?” Teriak Seonya dalam kamarnya yang tadi terbangun karena suara petir. Eunhyuk tersenyum licik mendengar suara Seonya. Terlintas sebuah pikiran busuk di otaknya.

“Hiks.hiks…aku arwah penasaran penghuni rumah ini, jebal temani aku agar tidak sendirian. Hiks.hiks…” Tangis Eunhyuk agak dibuat-buat seperti yeoja untuk menakut-nakuti Seonya. #plakk Eunhyuk stress -,-

“Jangan bodoh Lee Hyuk Jae. Aku tahu itu kau, dasar penyusup!” Teriak Seonya dari dalam kamarnya. Eunhyuk hanya mendecak sebal lalu segera mlanjutkan langkahnya yang tertunda menuju kamarnya. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba listrik mati.

“KYAAAA…!!!” Terdengar suara teriakan Seonya yang sangat nyaring dari arah kamar. Eunhyuk yang kaget mendengar teriakan Seonya reflex berbalik arah sambil meraba-raba jalan menuju kamar Seonya karena sekarang sangat gelap.

“KYAAA…APPAAAA…EOMMAAA…JEBAL…!” Teriak Seonya makin kuat. Suaranya terdengar sangat ketakutan. Eunhyuk pun makin bingung ada apa dengan yeoja itu. Dengan langkah yang dipercepat dan dengan menabrak beberapa barang, akhirnya Eunhyuk sampai didepan pintu kamar Seonya.

“Ya! Seonya! Waeyo? Neo Gwaenchanha?” Tanya Eunhyuk sambil memutar-mutar kenop pintu berusaha membukanya, tapi percuma karena pintunya dikunci dari dalam.

“Hiks…hiks…Appa, Eomma, jebal…tolong aku…hiks…” Kini suara tangisan mulai terdengar dari kamar Seonya membuat Eunhyuk makin khawatir.

“Aish~ kau kenapa Seonya? Ayo buka pintunya!” Teriakan Eunhyuk tidak dipedulikan Seonya karena yeoja itu terlalu sibuk dengan rasa takutnya sendiri. Akhirnya Eunhyuk pun memutuskan untuk mendobrak pintu kamar Seonya, agak susah memang, tapi setelah hampir 10 kali mencoba, akhirnya pintu kamar Seonya pun terbuka.

Karena tidak bisa melihat dalam gelap, Eunhyuk langsung mengambil ponsel dari kantung celananya dan menghidupkan flash-nya. Disinarinya seisi kamar sampai ia temukan sosok Seonya tengah berada di bagian pojok kamar diatas kasur dengan posisi memeluk lutut. Rambut Seonya terlihat acak-acakan sedangkan bahunya bergetar karena menangis. Dengan cepat Eunhyuk mendekati Seonya dan memeluk yeoja itu erat, entah kenapa hatinya miris melihat keadaan Seonya.

“Lepaskan aku. Jangan dekat-dekat.” Tanpa diduga ternyata Seonya memberontak membuat Eunhyuk terdorong agak jauh.

“Tenanglah Seonya, ini aku, Eunhyuk, suamimu. Aku tidak akan menyakitimu.” Bujuk Eunhyuk.

“Eunhyuk?” Kini Seonya langsung mendekat dan memeluk Eunhyuk sangat erat.

“Tenanglah, aku akan melindungimu.” Ujar Eunhyuk lembut. Dibalasnya pelukan yeoja itu lalu dielusnya kepala Seonya penuh sayang.

“Jebal…jangan tinggalkan aku, aku takut. Hiks.” Ucap Seonya memelas.

“Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, aku janji. Uljima…” Kini dirasakan Eunhyuk Seonya mengangguk-angguk dalam pelukannya. Ia pun memutuskan untuk diam saja walau sebenarnya ia agak bingung dengan tingkah Seonya. ‘Kenapa dia bisa sehisteris ini? Apa dia takut petir? Tapi setelah petir tadi dia masih bisa mengataiku bodoh kok. Atau karena aku pura-pura seperti hantu tadi? Ani, dia bahkan tidak takut hantu. Lalu apa karena mati lampu? Ah sudahlah besok saja kutanyakan kalau dia sudah lebih tenang.’ Ujar Eunhyuk dalam hati.

-TBC-

haha gaje ya? maklumin aja deh ya :p

gomawo yang udah mau baca 🙂

ditunggu RCL nya, kalo dikit gak aku lanjutin kok.haha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s