[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 1)

Tittle    : My wife, my enemy # Conflic 1

Genre  : Siapa saja yang mau baca

Cast     : _Yesung as Kim Jong Woon

_ Jang Mi Ran

_ Shin Na Mi

_ Cho Kyuhyun as His self

_ Other cast

The Most Real Inspiration by : Dini De’Forest (FB)

 

Terima kasih atas waktu luangnya ^^ please correction~~~

********

Kim Jong Woon POV

Brak ! aku terkejut mendapati rekanku Hee Chul meletakkan setumpuk komik dengan kasar di mejaku. Aku yang tengah menyelesaikan tugas anggaran dari kepala sekolah langsung mendongak bingung padanya.

“Wae?” tanyaku lembut padanya, dan bisa ku lihat mukanya yang memerah menahan marah disertai tanduk samar di kepalanya yang kian mencuat dalam bayanganku.

“Lihat,” tangannya menunjuk kepada tumpukan komik di depanku, “gadis itu benar-benar membuatku gila!” umpatnya sambil kemudian berkacak pinggang dengan kaki tak bisa diam. Aku memutar kursi putarku ke arah kanan, menghindari tatapan Hee Chul yang kelimbungan menahan marah. Refleks jemariku memijat keningku sendiri karena terserang pusing tiba-tiba.

“Panggil dia kesini,” titahku pelan namun tegas. Tak butuh waktu lama sampai Hee Chul kemudian menyerat gadis itu ke hadapanku. Ku putar kembali kursiku ke arah depan lalu melihat tampang ‘tak berbenah’ gadis yang selalu melakukan hal seenaknya di sekolah beribu peraturan tersebut. ku lihat gadis itu meringis dengan perlakuan Hee Chul yang mencengkram lengannya keras seolah titik kesabarannya tertumpu di sana. Aku memberi isyarat pada Hee Chul untuk melepaskan cengkramannya dan dia menurut dengan tampang terpaksa.

“Apa ini?” tanyaku datar dan ketus sambil menunjuk setumpuk komik di mejaku.

“Komik,” jawabnya cuek sambil memalingkan muka enggan. Aku mendesah, mencoba tetap bersabar.

“Anak kecil pun tahu kalau ini sekumpulan buku bergambar,” kataku menaikkan sedikit nada. Dia menatapku dengan tampang mengejek. “Kalau tahu mengapa bertanya?!”

“Kau!” Hee Chul hampir melayangkan tangannya jika saja tidak ku cegah dengan isyarat mata. Dia kembali diam sambil mendengus di samping gadis itu.

“Jang Mi Ran, siapa yang menyuruhmu membawa setumpuk komik ini ke sekolah?” tanyaku mulai tegas.

“Tidak ada peraturan yang melarang siswanya membawa komik ke sekolah,” jawabnya masih cuek.

“Tetapi peraturan sekolah jelas melarang siswanya untuk disiplin mengikuti jam pelajaran dan bukan malah membaca komik-komik ini dari balik meja!” tegurku dengan suara yang agak keras.

“Itu urusanmu,” sergahnya tak peduli.

Brak! “Ini masalahmu!!” Aku bangkit dari kursiku sambil menggebrak meja. Gadis itu bukannya takut malah menatap ke arahku sambil melotot.

“Lalu kau mau apa, huh? Menjemurku di lapangan atau menyuruhku memunguti sampah bekas makanmu untuk ku jejalkan ke balik mejamu yang sok wibawa itu??!” tantangnya.

“Kau!!” Aku setengah berteriak dan emosiku mencuat. Aku selalu kalah dalam mengendalikan kesabaran menghadapi gadis pembangkang ini. Rasanya ingin sekali ku tendang gadis arogan yang tidak ada pintarnya sama sekali ini. Apalagi melihat tampangnya yang acuh terhadap segala peringatan dariku. Tak ada takutnya, bengis, dan tak tampak sisi feminimnya sama sekali. Dia benar-benar image buruk dalam kepemimpinan osisku.

Cklek, “Hei, hei, ada apa ini? Mengapa ribut sekali??”

Semua mata menoleh ke arah pintu. Di sana, sahabat sekaligus rival belajarku, Cho Kyuhyun, berdiri dengan  senyum menawannya seperti biasa. Aku melihat wajah gadis itu. Ekspresinya berubah. Wajahnya yang selalu menyebalkan tampak melunak. Dia berpaling terus ke belakang menatap sahabatku, memunggungiku,  seolah lupa bahwa ia tengah memiliki masalah yang harus diselesaikan denganku.

 

Jang Mi Ran POV

Aku baru saja hendak bersantai ria membaca komik terbaru yang baru ku beli beberapa hari lalu itu dari balik meja ketika aku merasa pelajaran yang dibawa Han sonsaengnim ini terasa membosankan, namun tiba-tiba sesosok tubuh yang paling tak ingin kutemui merekam aksiku. Aku mendesis sebal ketika tiba-tiba ia menghentikan jalannya pelajaran lantas merampas semua komikku dari kolong meja. Aiissssshhh, menyebalkan sekali aksi gila para osisma yang sok tertib ini!!

Kim Hee Chul. Bukan sekali-dua kali aku berurusan dengan namja setengah yeoja itu. Dia pikir sikapnya yang tegas membuatnya tampak garang di mata para siswa, hah?? Sama sekali tidak!! Entah dia bodoh atau apa karena dia tak pernah sadar bahwa ribuan siswa di sekolah ini selalu tertawa di belakangnya ketika dia selalu marah-marah melihat kejanggalan sepele yang dilakukan para siswa. Jadi mana mungkin ada yang takut dengannya sementara wajahnya selalu penuh lelucon begitu?? Ckckckckck.

Tapi bukan dia sebenarnya yang ku khawatirkan. Sudah ku bilang kan, Kim Hee Chul itu bukan apa-apa, tapi justru temannya itu yang paling malas ku temui. Siapa lagi kalau bukan ketua osis sok wibawa itu. Lihat saja cara mereka memperlakukanku. Mereka kira aku ini anjing yang seenaknya diseret ke ruang osis mereka yang membosankan itu?? Lalu di sana aku hanya akan lagi, lagi, dan lagi berdebat dengan Kim Jong Woon?? Hah! Membuang waktuku sekali.

Cklek, “Hei, hei, ada apa ini? Mengapa ribut sekali??”

Aku menoleh ke belakang ketika pertempuran mulutku dengan Kim Jong Woon tengah panas-panasnya. Dadaku seketika berhenti berdetak begitu saja melihat sosok yang paling sering mengisi hatiku itu berdiri disana, dan tetap selalu tampan seperti biasa. Kemarahanku terasa mereda berganti ribuan bunga yang tiba-tiba bermekaran di sanubariku. Sadar bahwa aku terlalu lama memandangnya di luar batas yang wajar, aku segera memalingkan wajahku. Rasanya pipiku memanas melebihi cuaca di luar sana yang sangat panas oleh sengat matahari.

“Ada apa lagi?” mataku mengikuti langkahnya yang kian mendekat ke arahku. Ok, maksudku, ke meja Kim Jong Woon. Dia lalu menatapku, dan aku tak malu untuk menatap balik padanya. Ini menyenangkan berlama-lama melihat wajahnya yang rupawan.

“Dia membaca komik pada saat jam pelajaran,” kata Hee Chul sambil memandangku kesal. Aku baru sadar bahwa tangannya sudah terlipat daritadi, seolah memantangku. Dia, Cho Kyuhyun, dengan santainya mengambil salah satu komik dari meja.

“Kau suka membaca ini?” tanyanya padaku. Aku mengangguk semangat sambil mencoba mengumbar senyum− meskipun itu tak berhasil karena ada dua tetengik ini di depanku.

“Aku punya banyak yang seperti ini di rumahku. Kau boleh berkunjung kalau mau,” tawarnya yang lantas membuatku terdiam. Dia pasti salah bicara. Mana mungkin dia menawarkan aku berkunjung ke rumahnya hanya demi meminjam komik.

“Apa yang kau katakan, Kyu?” bantah Jong Won. Dia malah mengangkat bahu. “Aku hanya mencoba menyelesaikan pertikaian sepele ini. Apa hanya karena komik lantas kalian mengangkat senjata dan merendahkan martabat kalian sendiri?”

Aku terhentak. Dia benar, dan dia juga salah. Benar karena memang ini sungguh seperti pertikaian kekanakan yang pernah ku alami. Dan salah karena sebenarnya pertikaian ini bukan hanya sekedar karena komik semata. Ini adalah pertikaian untuk kemarahan lain yang tak beralasan dan untuk sebuah balasan atas ketidakmampuan. Ya, ini bukan hanya sekedar pertikaian semata. Ini adalah perang. Perang dalam arti nyata.

“Ini alamat rumahku,” Kyuhyun memberiku secarik kertas yang tampak seperti bongkahan berlian bagiku. Tidak, alamat rumahnya bahkan lebih berharga dari apapun itu. Inilah alasanku berada di sini. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri.

“Kyu!” ck, sepertinya Jong Woon masih saja mengganggu urusanku. Aku mendelik kesal padanya. Kyuhyun menepuk pundaknya pelan, “Tidak apa-apa Jong Woon. Kau bisa berkunjung ke rumahku bersamanya kalau mau,”

Ok, aku nyaris tersedak sekarang.

 

********

Kepalaku rasanya sangat gatal. Sepanjang jalan pulang aku terus menggaruk kepalaku hingga rambutku yang tidak tersisir rapi pun bertambah acak-acakan. Aku mencoba menahan rasa gatal ini ketika duduk di dalam bus. Bagaimana pun aku tidak ingin orang-orang merasa terganggu dengan aktivitas menggarukku. Ku putuskan untuk membaca komik yang sudah ku ambil paksa tadi dari tangan para osis.

Butuh waktu 25 menit untuk tiba di rumah, dan rasa gatal ini sekarang menjadi semakin menyiksa. Aku terus menggaruk kepalaku hingga memasuki pekarangan rumah. Di pintu depan, aku bertemu dengannya. Aku mencoba tak peduli dengan berpura-pura tak melihatnya. Ku lihat dia menekan bel rumah, lalu aku berdiri di sampingnya menantikan seseorang membuka pintu.

“Menjauh dariku. Aku tak mau kutu-kutu di kepalamu itu beterbangan di sekitar rumah.”

Aku menatapnya tak percaya, “Mwo??!!”

Cklek, “Kalian sudah pulang?” seseorang menyapa kami dan dia dengan cueknya meninggalkanku duluan memasuki rumah.

“Aku pulang, Nyonya Chang,” katanya dengan tampang tipunya seperti biasa. Ramah.

“Selamat datang tuan dan nona,”

Aku merenggut sebal sambil membuka asal sepatu taliku. Saat ku berikan ranselku kepada Nyonya Chang, dia menyeletuk, “tolong periksa ranselnya, Nyonya Chang. Ku rasa di sana banyak barang bukti untuk kau laporkan pada aboji tentang betapa malasnya dia belajar,”

Aku melotot tak percaya, “Mwo??!” pekikku.

“Ah, satu lagi. Tolong ajari dia menggunakan shampoo. Ku rasa ribuan kutu itu sudah membuat banyak generasi di kepalanya,”

“YA!! KIM JONG WOON!!!”

 

Kim Jong Woon POV

“YA!! KIM JONG WOON!!!”

Ckckckckck, aku mencibir sambil tersenyum meremehkan padanya. Lihat saja, mana ada gadis seperti itu di dunia? Pemalas, bodoh, dan tidak mengerti kerapian sama sekali. Mana mungkin ada namja yang menyukai yeoja sepertinya? Memikirkan hal itu membuatku kesal saja.

Brak! Ku banting pintu kamar dengan setengah menahan beban penderitaan. Mengapa nasibku sesial ini bisa serumah dengan gadis sepertinya? Apakah Tuhan tengah mempermainkan nasibku agar aku bisa memandang dunia tidak hanya dari segi keperfect-kan yang ku punya? Baru ku pikir bisa mengistirahatkan otak sejenak dari kepenatan ini, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Mi Ran sudah berdiri di sana dengan berkacak pinggang. Aku mendesah malas sambil kembali bangkit dari tidur.

“Wae?” tanyaku malas, dan aku melotot ketika dia berjalan hendak menghampiriku. Reflex aku langsung menahannya.

“Stop!! Jangan mendekat! Kau pikir aku akan membiarkan kutu-kutu di kepalamu berterbangan padaku, hah?!” tegurku keras. Dia terperangah mendengar ucapanku lalu ia malah semakin mendekat padaku dan mengambil guling yang kemudian dia lemparkan padaku. Kepalaku sedikit sakit terkena lemparan guling yang langsung ku tangkap itu.

“Kalau kau tak ingin dekat-dekat denganku, sana tidur di lantai marmermu!” teriaknya sambil seenaknya berbaring dan menutupi dirinya dengan selimut. Aku melongo melihat tingkahnya.

“What??!!!” Pekikku. Dia langsung terduduk. “Wae?? Kau ingin protes, huh? Sana protes pada jadwal yang kau tulis di balik lemarimu!!”

Aku menganga tak percaya. Ini sungguh menyebalkan ketika harus bergiliran menggunakan ranjang super nyaman dengannya. Kepalaku rasanya mau pecah berurusan dengan Mi Ran. Mana mungkin aku bisa tahan hidup selamanya bersamanya?

Ya Tuhan… mengapa aku bisa menikah dengannya???

 

Mi Ran POV

Rasakan itu. Dia pikir siapa dia berani-beraninya membuatku marah? Aiish…. Aku benar-benar tidak bisa tidur dengan benar sekarang. Dia selalu membuatku jengkel dan menghilangkan mood baikku. Tiba-tiba kepalaku kembali terasa gatal. Apa benar apa yang di katakannya kalau aku berkutu? Uuukh, tidak mungkin.

“Nyonya Chang!” Aku berteriak sambil turun dari ranjang. Beberapa menit kemudian, aku sudah berada di kamar mandi bersama pelayan kami, Nyonya Chang. Dia membantuku mengeramas rambut.

“Ini bukan karena kutu, nona. Tapi karena ada banyak sekali kotoran dan debu di kepalamu,” jelasnya yang membuatku sedikit merasa lega.

“Benarkah? Lalu apa yang harus ku lakukan untuk menghilangkan semua kotoran ini?” tanyaku polos.

“Nona harus sering mengeramas rambut nona seperti ini,” jawabnya yang membuatku lantas meringis. “Aku tak punya waktu untuk melakukan hal itu, Nyonya,” kilahku sambil meresapi pijatan nyaman jemari Nyonya Chang di kepalaku.

“Saya akan membantu nona berkeramas,” katanya membuatku tersenyum senang. Kemudian dia menyiramkan air di kepalaku dan busa-busa shampo itu pun menghilang. Setelah itu ia meneruskan mengeringkan rambutku dengan handuk. Disela-sela kegiatannya, dia berkata, “Kesehatan Tuan Jang semakin membaik, nona. Ku dengar beliau sudah boleh keluar rumah sakit besok,”

Aku terdiam. Pikiranku melayang ke haraboji yang seminggu lalu jika saja aku tidak menyetujui keinginannya untuk menikah dengan lelaki menyebalkan itu, mungkin dia sudah berada di surga sekarang. Benar, aku menikah dengan Kim Jong Woon karena dijodohkan. Ini bermula dari perjanjian konyol harabojiku dengan harabojinya ketika mereka masih muda. Awalnya mereka berencana menjodohkan anak mereka, namun karena keduanya melahirkan anak laki-laki, jadilah aku sebagai cucunya yang menjadi korban perjodohan ini. Aku menikah dengannya seminggu yang lalu tepat ketika haraboji tengah kritis di rumah sakit melawan penyakit jantung kronisnya. Aku menangis semalaman karena tak rela di nikahkan dengan lelaki yang selama dua tahun terakhir ku anggap musuh bebuyutanku di sekolah. Well, dia ketua osis, dan kerjaannya hanya selalu mengganggu apa yang ku lakukan dan semua selalu tampak salah di matanya. Pertanyaannya, mana ada yang menikah ketika masih duduk di bangku sekolah zaman sekarang?? Mereka pikir ini zamannya Siti Nurbaya, legenda dari negara Indonesia itu? Kalau bukan karena rasa hormatku yang teramat sangat kepada haraboji, tidak akan mungkin ku korbankan masa remaja di penghujung Sekolah Menengah Atasku ini dengan menikah bersama pria yang sama sekali tak ku cintai.

“Yap, sudah selesai nona,” Nyonya Chang tersenyum padaku dari pantulan cermin. Dia baru saja selesai menyisir rambutku. Aku melihat punggungnya keluar dari kamarku. Aku menghela nafas. Haraboji bahkan mengutus pelayan kepercayaan keluarga kami untuk menemani−atau bisa ku katakan memata-matai−kehidupan rumah tangga aku dan Jong Woon. Pekerjaannya selain menyelesaikan urusan rumah, juga untuk memastikan bahwa rumah tangga kami baik-baik saja. Mungkin haraboji tahu bahwa pernikahan kami yang masih di bawah umur ini cukup labil jika dibiarkan sendiri, dan kenyataan itu memang benar. Mereka semua hanya tidak tahu bagaimana berantakannya hubunganku dengan Jong Woon di sekolah, dan kami selalu bisa menutupi hubungan buruk kami itu di rumah. Setidaknya itu yang bisa ku lakukan untuk tampak baik di depan Nyonya Chang agar penyakit jantung haraboji tidak kumat. Dan yang pasti, pernikahanku ini harus tetap menjadi rahasia agar aku tidak malu dan tetap menjalani aktivasku dengan bebas di luar sana.

Aku melirik jam di dinding yang sudah beranjak malam. Ku dengar suara Nyonya Chang yang sudah mulai sibuk menyiapkan makan malam di dapur. Selagi menunggu masakan tiba, aku memutuskan ke ruang baca dan membaca komik-komikku. Ruang baca ini merupakan ruangan yang semula akan ku jadikan kamarku. Namun ternyata kehadiran Nyonya Chang di sini juga untuk memastikan bahwa kami tetap sekamar seperti lumrahnya pasangan suami istri di luar sana. Maka jadilah kamar ini menjadi perpustakaan kecil kami yang terdiri dari dua rak besar di tengah yang memisahkan antara tempat bacaku yang semua berisi komik-komik dengan tempat bacaan Jong Woon yang semua berisi buku-buku pelajaran yang membosankan. Begitu masuk ruangan, aku melihat Jong Woon tengah tertidur di sofa bacanya dengan buku menutupi wajahnya. Aku menghembuskan nafas tak mengerti. Dia selalu begitu sejak aku mulai lebih mengenalnya seminggu yang lalu, tepatnya setelah aku resmi menjadi istrinya. Atau memang itu sudah sifatnya yang suka sekali membaca buku pengasah otak itu. Dasar ketua osis terlalu memaksakan diri.

“Apa yang kau lihat?”

Aku terhentak kaget. Jong Woon menyingkirkan buku di wajahnya lalu menatapku tajam. “Aku tanya, apa yang kau lihat?”

Aku mendesah sebal. Percaya diri sekali namja satu ini.

“Aku hanya melihat bagaimana nasib buku yang kau jadikan penutup wajahmu itu. Kasihan sekali buku itu karena terkena muntahan air liurmu!” sindirku asal. Dia hanya menguap sambil menggaruk kepalanya yang mungkin terasa pusing karena baru bangun tidur. Lihatlah, sosok jeleknya itu mungkin hanya aku yang tahu. Tidak terlihat seperti image ketua osis yang cool sama sekali.

Dia merogoh sakunya yang bergetar. Kemudian dia tampak menerima telepon dari seseorang.

“Yeboseo?.. ah Na Mi… ya,ya… mungkin besok atau lusa…. Apa?toko buku?… ide yang bagus..”

Aku mencibir. Dasar namja. Ku hampiri rak komikku, kemudian kejadian tadi siang terbesit begitu saja. Aku tersenyum-senyum sendiri menatap komikku. Cho Kyuhyun. Namja itu mengapa selalu punya alasan untuk membuatku tersenyum sepanjang hari? Ku rogoh sakuku dan mendapati secarik kertas dengan sebuah alamat disana. Jika tahu semudah ini mendapatkan alamatnya, mungkin sudah dari dua tahun lalu aku berulah seperti tadi. Dia… aku sangat menyukainya. Dialah alasanku mati-matian berjuang masuk ke Libra Highschoolwalau pun mendapat jatah kursi di kelas dengan rangking terburuk di sana. Dialah alasanku bertahan menghadapi segala peraturan menjengkelkan di sekolah terkenal itu. Hah, andaikan saja otakku secerdas oppa Yoon Ki, mungkin aku bisa mendapat kelas yang sama dengan Kyuhyun. Tapi karena keterbatasan otakku, aku cukup puas mendapat kelas terburuk. Yang penting kan aku seatap dengannya. Hihihihi.

“Jangan tersenyum-senyum sendiri, bodoh! Kau membuatku takut,” katanya membuyarkan lamunanku. Aku mengerucutkan bibir sebal.

“Tuan muda, nona, tuan Jang menelepon,” teriak Nyonya Chang. Dengan setengah malas, kami berdua menyeret langkah ke ruang tengah. Kemudian Nyonya Chang mengaktifkanloadspeaker agar aku dan Jong Woon bisa mendengar bersama-sama, lalu Nyonya Chang kembali melanjutkan masaknya di dapur.

“Apa kabar haraboji?” sapa Jong Woon ramah. Aku mencibir. Dasar pencari muka!

Kabar haraboji sangat baik, cucuku,” jawab haraboji diseling gelak tawa yang renyah. Sebahagia itukah kakek mendapatkan cucu menantu seperti Jong Woon?

Besok aku keluar dari rumah sakit, cucuku,” katanya meneruskan.

“Wah, itu berita bagus,” seru Jong Woon yang lantas membuat harabojiku kembali tertawa.

Aku benar-benar sudah merasa kuat sekarang, bahkan untuk menggendong cicitku nanti,” kata haraboji yang membuatku terperangah setengah mati lantas kami pun saling berpandangan ngeri.

“Haraboji ini berkata apa, kami kan masih sekolah, kek.” Sergahku.

Loh memangnya kenapa? Dulu nenek kalian pun melahirkan ayah kalian di usia 15 tahun. Hahahaha!

Aku geleng-geleng kepala. Itu kan dulu, kek! Ketusku dalam hati.

“Haraboji, usia kami kan baru menginjak 18, dan tentunya di masa sekarang ini kami lebih memilih untuk memikirkan bagaimana caranya nanti bisa diterima di universitas,” kata Jong Woon berdiplomasi. Kali ini aku sangat setuju dengannya.

Kalian ini apa-apaan sih?! Kalian pikir dengan memiliki anak kemudian masa depan kalian akan terhambat?? Itu tidak akan terjadi. Kakek yang akan memastikan hal itu!” haraboji kembali kesifat asalnya yang egois dan mau menang sendiri. Kalau sudah begini aku hanya bisa diam. Punya anak dengan Kim Jong Woon?? Hah! Bermimpi pun tidak.

Pokoknya kakek tidak mau tahu. Pertengahan tahun nanti sebelum kelulusan kalian, kakek ingin kabar baik dari kalian perihal cicit. Arraseo?!”

Kembali aku dan Jong Woon saling berpandangan. Tiba-tiba saja aku bergidik melihatnya. Begitu pun juga dia.

“ANDWEE!!” pekik kami berbarengan.

YA!!” haraboji tak kalah kencang.

Bagaimana ini ?????

 

 

TuBerCulosis­­_ _ _

 

 

 

Tinggalkan jejak ya dengan berkritis ria ^^

Publised By Allison

Advertisements

10 thoughts on “[Series/Yesung] My wife, my enemy #Conflic (PART 1)

  1. OMG, Jong woon Oppa jadi anak SMA? ga kebayang bgt 😀
    Arghhh… Ada Kyu nya jga, sang pngalih prhatian ku dari KJW haha

    Penulisan nya rapi, ga bnyak typo, cerita nya jga mnarik. Izin bca next part nya.

  2. annyeong author..
    aku reader baru nii disinii..bangapseumnida..^^
    aku bca ff ini karna castnya yesung..lagi kangen banget sama yesung yg lagi wamil tapi ga kaya lagi wamil, hmm apalah bahasanya ini -__-
    dwesso, aku lanjut baca yaa authornim..^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s