[SERIES/EUNHYUK] Bad Life Part 6 (END)

Tittle                     : Bad Life PART 6 END

Author                 : Itta ^^ @rosita325

Fb                          : Rosita Adiana

Blog                      : http://rositaadiana.wordpress.com/ 

Genre                   : Hardness, Sad, Romance.

Lengt                    : Series

PG                         : 16+

Cast                      : Shin Jin-Min a.k.a Jin-Min

Lee Hyuk-Jae a.k.a Hyuk Jae (Super Junior) – Eun Hyuk

Cho Jin-Yoo

Lu Han

Shin Dong Hae a.k.a Lee Dong Hae Super Junior (diubah sesuai marga tokoh utama)

 

BAD LIFE PART 5

 

 http://www.facebook.com/notes/super-junior-fanfiction/serieseunhyuk-bad-life-part-5/609584082423534

 

 

Happy Reading… ^^

 

Aku memang tak tahu apa itu Akhir Bahagia. Namun, jika bersamamu, melihatmu saja aku sudah bahagia.

 

                                                                  —@@@@—

 

BEFORE >>

 

2 Tahun Kemudian.

 

 Universitas Kyung-Hee

 

*

 

Ji-Yoo mendecak kesal, ia memejamkan matanya erat-erat dan memandang Hyuk-Jae dengan pandangan menusuk. “Aku sungguh marah! Aaaaaaaaa akan lebih baik jika putus saja,” Ji-Yoo mengatakan dengan mengebu-ngebu menahan emosi.

 

Sebagian mahasiswa yang berjalan di lorong kelas itu meliriknya dengan tatapan aneh.

“Kenapa?” Tanya Hyuk-Jae takut-takut. Seperti gadis itu sedang tak main-main sekarang.

Ji-Yoo mendesah keras. “KENAPA? Ah, leherku,” Ji-Yoo memegangi lehernya sendiri dan menatap jengkel ke Hyuk-Jae.

 

“Dia membuatku menunggu dua jam Lee Hyuk-Jae! Dua jam!” Katanya tak percaya. Hyuk-Jae tertunduk, ia memegangi belakang kepalanya bingung. Ji-Yoo sungguh menyeramkan.

“Mu-mungkin Lu Han memang sedang mengalami masalaah.. Akh,” sebelum ia menyelesaikan ucapannya Ji-Yoo terlebih dulu memukul bahu Hyuk-Jae kencang.

“Aku mau putus dengannya, sekarang!”

 

“Ada apa ini?” Hyuk-Jae dan Ji-Yoo menoleh ke belakang tubuh Ji-Yoo, disana terdapat Lu Han yang dengan memakai tas nya memandang mereka dengan kening berkerut. Hyuk-Jae menggaruk tekuknya, sendiri dan mengalihkan pandangan. Lu Han dalam masalah sekarang.

 

“Datang juga Lu Han yang sok tampan ini,” kata Ji-Yoo sambil berkacak pinggang.

 

“Kemarin kau melupakan janjimu padaku, maksudmu apa? Kau tahu, aku sudah menunggumu selama dua jam?” Lu Han melongo, ia melirik Hyuk-Jae meminta di beri tahu maksudnya.

 

“Dua jam apa? Apa?” Tanya Lu Han tak mengerti. Ji-Yoo mendecak tak percaya. “Aku kan memintamu untuk datang ke Namsan Tower kemarin malam, dan kau tidak datang. Jangan pura-pura polos Lu Han, kau sangat tidak pantas.” Desis Ji-Yoo sinis.

 

Lu Han tak mengerti. “Namsan Tower apa, sayang? Aku tidak tahu, semalam aku maingames bersama Hyuk-Jae hyung. Apa maksudnya?” Lu Han mulai berbicara melunak. Ji-Yoo mengerutkan dahinya bingung dan menoleh ke Hyuk-Jae. “Yak Lee Hyuk-Jae, bukankah aku sudah bilang padamu untuk memberitahukannya ke Lu Han? Apa maksudnya kau bermain games bersama Lu Han?” Tanya Ji-Yoo curiga. Hyuk-Jae menelan ludahnya gugup, mati aku.

 

“Itu-itu em.. Kau tahu, aku lupa memberitahunya ke Lu Han. Lagipula eh… Aku tidak, eh… Aku bosan jadinya, aku..”

 

“Yak, Hyuk-Jae!”

 

“Hyuk-Jae hyung!”

 

Hyuk-Jae tersenyum meminta maaf. “Maafkan aku. Itu tak salah eoh? Kalian malah berduaan pacaran sedangkan aku diam tak berdaya dirumah, aku hanya menghindari itu,” bela Hyuk-Jae.

 

“MAKANYA CEPAT PUNYA KEKASIH!”

 

“MAKANYA CEPAT PUNYA KEKASIH!”

 

*

Dua tahun berlalu. Tak sangka semuanya berlalu cepat. Ji-Yoo sudah berpacaran selama dua tahun dengan Lu Han tak sangka ia hanya berniat memperkenalkan tak sangka menjadi kekaish. Ayahnya sudah selesai semasa tugasnya menjadi presiden dan Hyuk-Jae bisa hidup dengan senyum cerah sekarang. Hah~ tetapi tidak semuanya, masih ada yang janggal.

 

Masa-masa awal kuliah tak semuanya menyenangkan ternyata. Itu, kekasih. Iri melihat pasangan yang kencan di hari minggu, sedangkan ia dengan ketidak berdayaan di rumah sambil menonton acara televisi yang tidak menyenangkan. Ia ingin mempunyai kekasih, namun tak ada satu gadis yang menyita perhatiannya.

 

“Lu Han say ‘a’, aah kau manis sekali.” Berlebihan, pikir Hyuk-Jae dongkol. Melihat pasangan ini di kantin sambil suap-suap-pan, oh shit! Menjijikan.

 

“Aku pergi,” decak Hyuk-Jae lalu bangun dari duduknya dan menyanggkan tas nya.

 

“Hey kau mau kemana?” Tanya Ji-Yoo.

 

“Ke rumah bibi Hyun-Myeong.”

 

Aneh. Rumah bibi Hyun-Myeong? Hyuk-Jae tak menyangka akan menjadi seperti ini, ia kira semuanya akan menjadi kilasan di matanya. Tidak, ia ingin menolong keluarga itu dan ingin lebih mengenalnya.

Sudah sampai sekarang ia sering bermain ke rumah bibi Hyun-Myeong yang kecil itu. Terasa nyaman disana, terlebih lagi ia mempunyai satu teman disana, Dong-Hae kakak Jin-Min. Lelaki itu memang sudah lumayan membaik akibat terapinya, Hyuk-Jae dan Lu Han yang membayarnya. Keadaan Dong-Hae sebenarnya tidak terlalu parah, jadi mudah untuk diobati.

 

Setelah berjalan cukup lama dengan pikiran yang ada di otaknya, akhirnya ia sampai di parkiran kampus dan mencari mobilnya. Mobil Ferrari putihnya terlihat paling menonjol, ia pun segera menghampirinya. Hari ini ia akan ke rumah Dong-Hae, daripada melihat orang berpacaran. Hih! Orang berpacaran.

 

Ia membuka pintu mobilnya dan menaiki. Memasang sealtbelt, lalu menjalankan mobilnya.

 

Shin Jin-Min. Kemanakah gadis itu? Tidak ada berita ia sadar atau pun meninggal. Terlebih lagi Ayah dari Cho Kyu-Hyun tidak tinggal lagi di Korea. Semuanya menghilang bagaikan kertas yang dibakar. Segala harapan, penantian, menghilang lenyap. Bibi Hyun-Myeong akan selalu sedih jika mengingat itu.

 

Tiga puluh menit kemudian ia sudah sampai di depan rumah bibi Hyun-Myeong. Ia membuka sabuk pengamannya, dan keluar dari mobil. Ia melangkahkan kakinya ke depan pintu rumah itu lalu mengetuknya. Tak lama seorang lelaki tampan membukakan pintu untuknya.

 

“Eh Dong-Hae! Kukira kau sedang kerja di tempat makanan cepat saji itu, kenapa kau ada dirumah?” Tanya Hyuk-Jae bingung. Dong-Hae yang memilik senyum manis itu terkekeh. “Aku libur, ayo masuk!” Ajak Dong-Hae ramah. Hyuk-Jae pun masuk ke dalam rumah itu, dan melihat bibi Hyun-Myeong sedang duduk di meja makan sambil memakan cemilan buah.

 

“Oh Hyuk-Jae, kau kemari? Bibi sedang memakan buah pemberiannya, kemari, makan bersama.” Ajak bibi Hyun-Myeong ramah. Wanita itu masih tetap cantik meskipun kerja seharian penuh, tetapi kini ia memutuskan untuk bersantai di rumah. Hm.. Tindakan yang baik.

 

“Bibi tidak pergi kerja?” Tanya Hyuk-Jae lalu duduk di meja makan dan berhadapan dengan ibu Jin-Min. Dong-Hae pun mengikuti hal yang sama, ia ikut duduk di sisi Hyuk-Jae.

 

“Aku hanya ingin istirahat,” balas Hyun-Myeong pelan. Mereka bertiga saling mengobrol dan tertawa. Inilah baru keluarga, keluarga yang menyenangkan. Sangat menyenangkan. Andaikan gadis itu ada disini dan melihat semua ini. Pengorbannya terbayar karena semuanya berjalan dengan baik.

 

*

 

Entah apa yang ada dipikiranku. Aku tak mungkin menunggumu ‘kan? Memangnya kau siapa? Kau hanya… Entahlah, aku tak tahu kau berarti apa untukku.

 

*

 

Sore hari. Sore hari musim panas. Waktu berjalan sangat cepat.

 

“Aku pulang ya!”

 

“Eoh! Besok mampir lagi ya?” Dong-Hae tersenyum ke arah Hyuk-Jae. Dong-Hae menutupi pintu rumahnya. Hyuk-Jae tersenyum tipis, ia berjalan ke tempat mobilnya terpakir. Sesaat ketika akan membuka pintu mobilnya. Ia melihat dari arah bawah, sepatu wanita berwarna merah muda ber-hak tinggi. Ia mendongak ke atas. Ada seorang gadis berambut coklat pekat lurus sebahu. Ia memakai dress berwarna merah muda juga, dan tersenyum manis ke depan Hyuk-Jae.

 

“Apakah aku sudah cukup cantik untukmu? Pantas untukmu? Apa aku sudah bisa mengambil hatimu?” Hyuk-Jae terpaku di tempat. Gadis itu lebih mendekat kepadanya.

 

Long time no seeMy machine..” Hyuk-Jae menatap lekat gadis yang seperti melakukan operasi plastik, ia sungguh gadis yang cantik.

 

“Jin-Min…” Katanya tanpa sadar.

 

Gadis itu tersenyum tipis. Tangannya terangkat, menggapai wajah Hyuk-Jae dengan tangan yang gemetar. “Sudah cukup belum?” Tanyanya pelan. “Aku masih mencintaimu seperti ini. Aku juga bukan gadis dungu, dan tidak akan ada latar belakang. Aku… Gadis sekarang, gadis yang menyukaimu.” Lanjutnya lembut. Kepalanya semakin mendekat ke wajah Hyuk-Jae, semakin dekat, dan… Bibir mereka berdua menempel.

 

Shin Jin-Min pergerakan di ciuman itu, ia memejamkan matanya dan melumat bibir lelaki itu. Melumat pelan, dan dalam. Kedua tangannya merangkul leher lelaki itu, membuatnya lebih mendekat ke Jin-Min. Mata Hyuk-Jae masih melebar, tidak menyangka semuanya berjalan tanpa diberitahukan terlebih dahulu. Ia berciuman.

Dengan… Jin-Min. Apakah ini mimpi? Jin-Min hidup, dan kini gadis itulah yang menciumnya? Tidak masuk akal.

Karena Hyuk-Jae tidak merespon, gadis itu berniat melepaskan. Namun, tanpa disangka pinggangnya di peluk erat terlebih dahulu oleh tangan kekar Lee Hyuk-Jae. Dan mereka melanjutkan ciumannya dengan saling melumat. Kepala mereka saling berganti arah untuk mencari cara bernafas. Ciuman yang panas.

 

 

“Kenapa kau baru datang sekarang, kukira kau meninggal. Kau tidak tahu bagaimana sedihnya Ibumu, kau benar-benar gadis yang jahat.” Kata Hyuk-Jae kesal.

 

“Jinjja? Aku tidak jahat kok, hanya saja, aku berpikir panjang. Aku ingin mengubahnya dan memberikan sedikit kebahagiaan kepada Ibu, aku bahkan bekerja menjadi karyawan di perusahan Ayah Kyu-Hyun di singapura. Dia sangat baik padaku. Oh iya kau yang selama ini menyemangati ibumu, sepertinya ini aneh,”

 

“Kau tidak kuliah?” Hyuk-Jae mengalihkan pembicaraan.

 

“Kuliah, sambil bekerja. Tetapi, kenapa tadi kau membalas ciumanku? Apa karena aku cantik jadi kau menyukaiku? Kau tahu, saat enam bulan aku koma, aku bermimpi tentangmu.”

 

“Tentang apa?”

 

“Tentang aku dapat memilikimu, eh tetapi, sekarang kita berpacaran kan? Tidak apa jika kita berpacaran hanya karena aku yang menyukaimu, aku tak butuh rasa sukamu, tetapi aku hanya butuh dirimu. Pokoknya aku tak mau tahu, sekarang kita berpacaran.”

 

“Hahah baiklah, asal ada satu syarat,”

 

“Apa?”

 

“Cium aku, terus menerus. Katanya ciuman bisa menimbulkan rasa suka,”

 

“Benarkah? Oh begitu yah, sini aku mau mencium mu.”

 

The End

 

 

Hyuk-Jae mengerutkan dahinya saat mempergoki lagi Jin-Min yang memperhatikannya saat ia mencatat. Ia menatap gadis itu lekat, apakah gadis itu menyukainya?

 

Oh! Gadis itu melihat lagi ke arahnya, mereka menjadi berpandangan beberapa detik. Tssk… Jin-Min menyukainya. Gadis itu mengalihkan pandangan dan mulutnya menggerutu tak jelas, menyadari kebodohannya. Bodoh. Mengapa bisa ketahuan.

 

Lelaki itu menatap ke papan tulis, namun bibirnya tersenyum. Gadis yang manis.

 

 

*

 

 

Ancur. Najis! Gue bkin ini hari ini, tiga jam, tanpa di edit terlebih dulu. Gue yakin pasti banyak typo wkwkwkw. Dan juga, maaf kalo part ini gak dapet feel dan terkesan terburu-buru. Soalnya gue mau cepet nyelesain, dan fokus belajar dulu. Bentar lgi ulangan soalnya buahaha. Happy end kan? Sebenarnya gue gak pernah bisa bkin Happy End, tapi mencoba akan lebih baik. Gue bakal bikin sekuel, tapi kalian harus nyumbang cerita yaaa hihihi. Nih yang mau minta sekuel, ke Fb gue ato Twitter weh ya. Xixixixix.

 

 

Published by Allison

Advertisements

2 thoughts on “[SERIES/EUNHYUK] Bad Life Part 6 (END)

  1. Dari part 1-6.. Intinya akan ada pelangi setelah hujan 🙂 yey! Saya komentator pertama !! Mianhe baru ninggalin jejak di part ini *bow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s